Kompleks Al-Amin, Jejak Muhammadiyah Sorong dan Kontribusi H. Abdul Rauf Abu

Kata Tanah Papua
12 Jul 2026 09:10
3 menit membaca

Penulis: Muhammad Adnan Firdaus (Mantan Wartawan Majalah Islam SABILI dan Harian Umum Fajar Papua).

Sorong,katatanahpapua.com — Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa para pahlawannya. Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah! Kata Bung Karno.

Ya, karna sejarah itu. Dalam konteks dan bingkai apa saja. Pasti selalu terkait dengan jejak para pahlawan, terutama Pahlawan Perintis.

“Al-Fadhlu lil mutasabiq.”

[Terjemahan: Keutamaan itu, selalu jadi pemilik para perintis].

Itulah sebabnya, dalam sejarah Indonesia dikenal istilah: Pahlawan Perintis Kemerdekaan. Demikian pula dengan Sejarah Muhammadiyah Papua umumnya, Papua Barat Daya khususnya.

Sejak Tahun 1970an, hingga saat ini, jika berbicara Muhammadiyah Papua (dulu: Irian Barat). Maka tidak ada seorang pun yang berani membantah bahwa Sorong yang dahulunya adalah Ibu Kota Kabupaten Sorong Provinsi Irian Jaya adalah salah satu episentrum kaderisasi dan Pusat Dakwah Muhammadiyah di Papua.

Tokoh-tokoh seperti: H. Abdul Rauf Abu, H. Usman Saad, H. Pulu Kadang dan kawan-kawan adalah tokoh-tokoh utama yang menjadi pionir utama pergerakan Muhammadiyah.

Secara kebetulan mereka adalah para veteran yang sebenarnya di Tahun 1960an sudah berada di Irian Barat untuk suatu misi sebelum berlangsungnya Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) Tahun 1969.

Dimana Pepera inilah yang menjadi pintu masuk Integrasi Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (N.K.R.I).

Tokoh yang paling pertama disebut, H. Abdul Rauf Abu sendiri adalah Putra Kedua dari H. Abu Siddiq dan H. Maidah yang sebelum berhijrah ke Sorong Irian Barat Tahun 1960an adalah kader dan Aktivis Muhammadiyah Makassar Sulawesi Selatan.

Beliau, H. Abdul Rauf Abu. Sebelum hijrah ke Sorong Irian Barat adalah Kader Muhammadiyah yang sudah dekat Tokoh-Tokoh Sepuh Muhammadiyah Sulawesi Selatan saat itu, seperti: H. Fathul Muin Daeng Ma’gading, K.H. Abdul Djabbar Ashiri, K.H. Marsuki Hasan, dan lain-lain.

H. Abdul Rauf Abu akhirnya menjadi sabiqunal Awwalun Muhammadiyah di Irian Barat Sorong saat tiba disana Tahun 1960an.

Selain misi dakwah, beliau H. Abdul Rauf, mengikuti jejak K.H. Ahmad Dahlan Perintis Muhammadiyah yang adalah seorang enterprenuer juga membawa misi ekonomi.

Di Tahun 1960an, Irian Barat umumnya, Sorong khususnya adalah “Challence Island” penuh tantangan yang memang sangat dibutuhkan oleh NKRI untuk dijamah oleh para pejuang perintis.

Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi Irian Barat umumnya, Sorong khususnya di tahun-tahun itu.

Irian Barat masih dalam kondisi transisi tarik menarik antara bergabung ke Indonesia dan menjadi Negara Boneka Belanda.

Belum lagi, di Tahun 1965 sebelum Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Tahun 1969 pecah Pemberontakan 3 30 S PKI.

H. Abdul Rauf Abu, beserta kolega dan keluarga yang akhirnya di Tahun 1960an memetuskan hijrah ke Sorong Irian Barat saat itu, datang dengan biaya sendiri.

Mereka diuntungkan dengan kebijakan Uang IB Pemerintahan Bung Karno yang membuat 1 Rupiah uang yang mereka miliki, bisa jadi 1000 Rupiah saat sudah tiba di Sorong Irian Barat.

H. Abdul Rauf Abu, sebelum memutuskan hijrah ke Sorong Irian Barat Tahun 1960 sudah cukup sukses menjadi Pedagang Es Putar yang berlokasi di Jalan Paje’nekang Kota Makassar.

…….. (Bersambung)

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x