
Kaimana,katatanahpapua.com — Berbicara soal Kabupaten Kaimana di Papua Barat bukan cuma tentang pesona sunsetnya yang magis. Di balik ketenangan “Kota Senja” ini, ada denyut nadi pergerakan sosial yang bergerak tanpa bising.
Salah satu motor penggeraknya adalah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kaimana. Hadir secara resmi sejak tahun 2013, organisasi ini sukses membuktikan bahwa dakwah Islam Berkemajuan bisa melebur indah dengan adat lokal, tanpa harus kehilangan identitas aslinya.
Merintis dari Bawah, Menggandeng Semua Lini
Perjalanan Muhammadiyah di Kaimana dimulai tahun 2013 di bawah kepemimpinan Ustadz Muhammad Zein Farisa. Alih-alih eksklusif, sejak awal PDM Kaimana langsung tancap gas membangun kolaborasi strategis. Mereka menggandeng Pemerintah Kabupaten Kaimana dan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF).
Lewat kolaborasi cerdas ini, mereka mengirimkan korps da’i muda ke berbagai wilayah pesisir terpencil. Tapi, para da’i ini tidak cuma ceramah di mimbar.
Mereka turun langsung menjadi guru bantu, mengajar baca-tulis, mengaktifkan majelis taklim, hingga membagikan bantuan sosial dan fasilitas air bersih secara universal kepada masyarakat duafa.
Aksi Nyata: Dari Masjid Kompi hingga Gebrakan Sekolah Inklusif
Muhammadiyah selalu identik dengan amal usaha yang konkret. di Kaimana, jejak fisik pertama mereka ditandai lewat pembangunan Masjid Kompi di lingkungan Batalyon Infanteri 764/Lamba Baua.
Masjid ini menjadi simbol sinergi kuat antara Muhammadiyah, masyarakat, dan aparat keamanan.
Lompatan besar berikutnya ada di sektor pendidikan. Bergerak dari bawah, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kaimana mendirikan KB/PAUD ‘Aisyiyah Bustanul Athfal di Jalan Utarum Air Merah, Kelurahan Krooy.
Sekolah usia dini ini sukses meraih Akreditasi B. Menariknya, kiprah ini terus menggelinding bak bola salju:
Dinamika Sosial: Hidup Mesra dengan “It Ftag Esu, It Rarum Esu”
Bagaimana sebuah organisasi modern bisa bertahan dan diterima hangat di tanah adat Papua? Jawabannya ada pada fleksibilitas kultur.
Kaimana punya filosofi toleransi yang sakral bernama “It Ftag Esu, It Rarum Esu” yang artinya, satu hati, satu tujuan.
Sebuah prinsip yang merekatkan harmoni antara keluarga Muslim, Kristen Protestan, dan Katolik.
Dalam Musyawarah Daerah (Musyda) ke-III, PDM Kaimana mengusung tema, “Memajukan Kaimana, Mencerahkan Semesta”, tema ini Muhammadiyah hendak menegaskan kembali posisinya sebagai perekat sosial, bukan pemisah.
Baik program bantuan karitatif (seperti tebar hewan kurban), penanganan respons bencana, hingga bangku sekolah di SD Muhammadiyah 1 dibuka lebar-lebar untuk siapa saja tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.
Lewat gaya gerakan yang merangkul dan inklusif, Muhammadiyah Kaimana tidak hanya berhasil menyemai benih organisasi sejak satu dekade lalu, tetapi kini tengah memanen kepercayaan masyarakat sebagai mitra andalan pembawa kemajuan di ufuk timur Indonesia. (M)


Tidak ada komentar