
Gerakan Numerasi Nasional dipadukan dengan Kokurikuler Noken untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berakar pada budaya Papua
KOTA SORONG — Yayasan Papua Bangkit Makmur Sejahtera menggelar Seminar Pendidikan “Gerakan Numerasi Nasional dan Kokurikuler Noken dalam Pembelajaran Mendalam”, Kamis (10/9/2026), mulai pukul 09.00 WIT hingga selesai.Kegiatan ini diikuti peserta terbatas dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Sorong, terdiri atas guru kelas, guru Matematika, dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.Hadir sebagai narasumber, Yusuf Muri Salampessy, M.Pd., Widyaiswara BGTK Papua Barat, yang memaparkan arah kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah terkait Gerakan Numerasi Nasional (GNN). Ia menekankan pentingnya penguatan numerasi sebagai kemampuan dasar murid dalam bernalar, memecahkan masalah, membaca data, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.Penguatan numerasi, menurut Yusuf, semakin penting sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, termasuk merespons capaian Programme for International Student Assessment (PISA).> “Numerasi bukan hanya urusan guru Matematika dan bukan sekadar berhitung. Numerasi merupakan kemampuan hidup yang perlu dibangun melalui pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan dekat dengan kehidupan murid,” ujar Yusuf.Selain GNN, Yusuf mengangkat Noken sebagai tema Kokurikuler dalam Pembelajaran Mendalam.

Gagasan tersebut dinilai relevan dengan Peraturan Daerah Kota Sorong Nomor 5 Tahun 2023 tentang Perlindungan dan Penggunaan Noken, khususnya Pasal 8 ayat (1) mengenai pembuatan noken dalam kurikulum sekolah.Menurutnya, noken dapat menjadi sumber belajar lintas mata pelajaran. Dalam Matematika, murid dapat mempelajari pola, geometri, pengukuran, dan perhitungan biaya. Dalam IPA, murid dapat mempelajari bahan alam, serat, tumbuhan, serta kelestarian lingkungan.> “Noken bukan sekadar warisan budaya. Di dalamnya terdapat matematika, sains, seni, ekonomi, lingkungan, dan nilai kehidupan. Noken dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan kehidupan anak Papua,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Pengurus Yayasan Papua Bangkit Makmur Sejahtera, Kaleb Yosua Kambu, S.T., menilai kegiatan semacam ini penting untuk terus dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan pendidikan sekaligus pelestarian budaya Papua.Kaleb berharap pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota semakin serius mendorong pembuatan dan penggunaan noken, baik melalui regulasi daerah maupun kebijakan di lingkungan pemerintahan.> “Kami berharap ada kebijakan yang mendorong penggunaan noken secara rutin, misalnya setiap Kamis pegawai menggunakan noken di instansi masing-masing. Selain menjaga identitas budaya Papua, langkah ini dapat ikut menggerakkan ekonomi para perajin noken,” ujar Kaleb.

Melalui seminar ini, Yayasan Papua Bangkit Makmur Sejahtera berharap Gerakan Numerasi Nasional, Pembelajaran Mendalam, dan kearifan lokal Papua dapat berjalan beriringan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga ruang untuk menjaga, mempelajari, dan mewariskan budaya kepada generasi berikutnya.“Dari Noken Kita Bernalar, dari Numerasi Kita Berkarya: Rawat Budaya, Kuatkan Pendidikan Papua.”


Tidak ada komentar