
JAKARTA, katatanahpapua.com — Sabtu siang di Jakarta terasa berbeda bagi para alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
Di sebuah ruang pertemuan di Kimaya Hotel, Slipi, mereka berkumpul bukan sekadar untuk bertegur sapa, tetapi untuk merajut kembali benang merah yang menghubungkan masa kuliah di Bangi dengan realitas kontribusi hari ini.
Naib Canselor UKM yang baru menjabat dua bulan hadir bersama jajaran pimpinan kampus, termasuk Timbalan Naib Canselor, pejabat Biro Hal Ehwal Pelajar dan Alumni (HEPA), dan Kantor Perhubungan Alumni.
Kehadiran ini bukan hanya formalitas, melainkan isyarat bahwa UKM memberi tempat istimewa bagi alumninya di Indonesia — mereka yang dulu datang sebagai pelajar lintas batas, kini menjadi bagian dari jejaring pemikir, pendidik, peneliti, dan profesional yang menghidupkan nama almamater di berbagai lini.
Di forum itu, akademisi Ismail Suardi Wekke menyampaikan gagasan lanjutan kerjasama antara UKM dan berbagai perguruan tinggi Indonesia.
Ia menyinggung kunjungan 14 perguruan tinggi keagamaan Islam swasta yang tergabung dalam APTIKIS ke kampus UKM awal Agustus ini.
Kunjungan itu tak hanya berbagi pengalaman tentang tata kelola alumni dan manajemen perguruan tinggi, tetapi juga membuka ruang bagi penandatanganan MoU dan MoA yang lebih terarah.
Percakapan siang itu juga melampaui batas ruang pertemuan. Isu kolaborasi riset tentang keanekaragaman hayati di Kawasan UNESCO Global Geopark Maros–Pangkep kembali mengemuka, mengingat hubungan awalnya sudah dirintis sejak 2022.
Penandatanganan Letter of Intent (LoI) kala itu menjadi penanda awal yang kini diharapkan berkembang menjadi kemitraan riset jangka panjang.Kehadiran UKM di Indonesia dalam dua tahun terakhir terbilang intens.
Pada Juli lalu, Prof. Zuliskandar, salah satu guru besar UKM, menjadi pembicara kunci dalam Gau Maraja Conference di Turikale. Di mata para alumni, jejak seperti ini membuktikan bahwa kolaborasi akademik lintas negara tak hanya hidup di atas dokumen kerjasama, tetapi hadir dalam forum-forum nyata, membawa gagasan ke ruang publik, dan memicu kerja sama baru.
Bagi para alumni, slogan UKM “Mengilhamkan Harapan, Mencipta Masa Depan” bukan sekadar frasa motivasi. Ia adalah pengingat bahwa ilmu yang mereka bawa dari Bangi harus terus tumbuh menjadi aksi dan kontribusi.
Pertemuan di Jakarta ini menjadi cermin, bahwa meskipun jarak memisahkan kampus dan para alumninya, nyala jejaring itu tetap terjaga — dan bahkan, semakin terang. (*)


Tidak ada komentar