
Jakarta, katatanahpapua.com — Di tengah kompleksitas zaman dan tuntutan internasionalisasi pendidikan, para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) Indonesia menunjukkan langkah konkret.
Melalui forum Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Ruang Serbaguna Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, 2 Agustus 2025, Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (APTIKIS) mengkonsolidasikan kekuatan untuk membawa misi akademik ke forum simposium internasional di tiga negara.
FGD ini bukan sekadar ruang temu antar-rektor. Ia adalah titik tolak dari upaya sistematis menghadirkan wajah Islam Indonesia di level regional dan global.
Simposium yang akan digelar di Malaysia, Thailand, dan Singapura nanti bukan hanya mengangkat reputasi institusi, melainkan membangun narasi baru: bahwa PTKIS tidak tertinggal, tetapi siap jadi pionir.
Dr. Maslim Halimin, Ketua Umum APTIKIS, menjelaskan bahwa kerja-kerja akademik PTKIS selama ini sering terlewat dari radar publik, padahal kontribusinya besar.
“APTIKIS mendorong agar perguruan tinggi kita tampil percaya diri di forum internasional, membagikan hasil riset, kerja-kerja pengabdian, dan jaringan intelektual,” ucapnya.
Pemerintah, melalui Staf Khusus Menteri Agama RI Farid Saenong, menanggapi langkah ini dengan apresiasi dan dukungan terbuka. Ia menyebut bahwa PTKIS harus dibaca sebagai bagian dari solusi strategis pendidikan keislaman nasional.
“Kami tidak ingin PTKIS hanya menonton percaturan global. Justru dari kampus-kampus inilah narasi keislaman yang inklusif bisa dibawa ke panggung dunia,” katanya.
Sementara itu, Ismail Suardi Wekke dari Dewan Pakar APTIKIS mengingatkan pentingnya memanfaatkan forum simposium sebagai sarana menyeimbangkan wacana.
“Di tengah derasnya isu radikalisme dan sektarianisme di dunia Islam, Indonesia punya tawaran lain: Islam berbasis keilmuan, akhlak, dan kolaborasi,” ujarnya.
FGD di Istiqlal memberi sinyal kuat bahwa kampus Islam swasta kini tak lagi ingin sekadar berkembang secara internal, tetapi juga diakui di luar. Mereka tidak berjalan sendiri; ada sinergi, ada visi bersama, dan yang lebih penting: ada tekad menyejajarkan diri dengan lembaga-lembaga global. (*)


Tidak ada komentar