
Sorong, katatanahpapua.com – konflik internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Papua Barat Daya kian memanas, pasalnya, jelang Muktamar yang dijadwalkan akan digelar perkiraan akhir September s.d. November mendatang terdapat beberapa Ketua DPC dan satu sekretaris dilengserkan oleh Ketua DPW PPP Papua Barat Daya.
Beragam alasan pemberhentian para pimpinan parpol tersebut telah ramai menjadi pembahasan di gubuk-gubuk media massa online.
Namun tak ada satupun alasan logis dan konstitusional yang diklaim dapat membenarkan alasan diberhentikannya para pimpinan parpol tersebut.
Sebut saja Ketua DPC PPP Raja Ampat, diberhentikan karena dugaan tidak mengikuti arahan DPP terkait dukungan pasangan calon Bupati pada pilkada kemarin.
Akan tetapi hal yang menggelitik ialah, ada dugaan pemalsuan terkait dokumen permohonan bakal calon bupati kemarin, sebab dalam anggaran dasar partai itu, pengusung bupati merupakan wewenang penuh DPC bersangkutan, fakta lapangan, lain yang diusung, lain pula yang keluar rekomendasi B-KWKnya.
Selanjutnya, Ketua DPC Kota Sorong, alasan diberhentikan karena Ketua DPC tersebut berdasarkan informasi yang beredar tidak mampu mengadakan kantor sekretariat dan tidak ada kejelasan keberadaan pengurus hariannya.
Kemudian, Sekretaris Wilayah PPP Papua Barat Daya, diberhentikan karena alasan ada surat pengunduran diri yang dibuat.
Dari beberapa polemik yang terjadi di internal partai berlambang Ka’bah ini menjadi magnet tersendiri, alhasil menarik perhatian dari berbagai kalangan, khususnya masyarakat Papua Barat Daya.
Salah satu pengamat politik asal Sulawesi Selatan kelahiran Manokwari pun turut berkomentar dalam polemik yang terjadi di internal partai PPP Papua Barat Daya tersebut, sebut saja Irman Jaya R.
Sebagai pengamat politik, ia melihat dinamika yang terjadi dalam PPP Papua Barat Daya jangan dibiarkan larut dalam kekisruhan, mengingat perolehan suara partai PPP merosok jauh sehingga menempatkan PPP berada pada urutan ke-12 dari 18 Parpol yang berkontestasi pada legislatif lalu di Papua Barat Daya.
Petinggi PPP Papua Barat Daya baik tingkat DPW maupun DPC se-Papua Barat Daya harus mampu berangkulan dan saling mendukung satu sama lainnya, terutama menyongsong Pemilu 2029 mendatang.
Setelah terhempas dari parlemen secara nasional, maka sudah tentu tantangan PPP akan semakin berat, ditambah lagi antar pengurus saling bergesekan, tidak ada keinginan berdamai dan berjiwa besar, alhasil konflik ini akan berkepanjangan, maka sudah tentu akan merugikan PPP kedepan dan merembes ke lapisan masyarakat secara luas.
Terkait dengan kepesertaan pada ajang Muktamar PPP, sebagai Ketua DPW PPP Papua Barat Daya, tidak perlu bermanuver jauh, hematnya, para pimpinan partai politik PPP tingkat DPC itu tidak perlu dirubah-rubah lagi, lalu menggantikan dengan orang lain, tanggalkanlah seluruh kepentingan pribadi masing-masing.
Ia menyarankan kepada para pimpinan parpol se Papua Barat Daya hendaknya menjadikan Muktamar mendatang sebagai momen merangkul.
Beda pilihan, salah presepsi, atau mungkin miskomunikasi, itu hal yang lazim biasa terjadi di dalam suatu organisasi partai politik.
“Saya mengamati permasalahan yang ada itu tidak begitu krusial, ini lebih kepada masing-masing yang mempertahankan ego, tinggalkanlah ego itu, saya melihat kesalahan tidak sepenuhnya ada di DPC PPP Raja Ampat, begitu pula, sebaliknya, tidak mutlak kesalahan DPW PPP Papua Barat Daya, jadi pertanyaannya, mau tidak berdamai dan berjiwa besar?.” Tuturnya.
Sebagai pengamat politik, Irman Jaya R. tidak memungkiri dampak kekisruhan yang terjadi pada internal PPP Papua Barat Daya itu akibat dari dinamika politik PPP secara nasional dan tarik menarik kepentingan skala nasional.
Terpenting dari itu adalah bagaimana antar pimpinan partai tersebut berpikir bagaimana membesarkan partai yang penuh dengan tantangan dan rintangan yang membentang saat ini hingga menjelang 2029 nanti.
Hal yang harus ada dalam benak para pimpinan partai PPP di Papua Barat Daya saat ini adalah bersiap diri meningkatkan elektabilitas partai ke seluruh penjuru Papua Barat Daya. (Mz)


Tidak ada komentar