Disclaimer: Ilustrasi kandang ternak babiSorong, katatanahpapua.com — Warga Kabupaten Sorong belakangan ini ramai membahas mengenai laporan Ketua RT berinisial S di Distrik Aimas perihal keberadaan kandang peternakan babi milik Yn. sebagaimana yang telah dilansir oleh media online Gaporpan.News pada hari Selasa, 29 Juli 2025 lalu.
katatanahpapua.com pun mendatangi sdr. Yn, pemilik kandang babi untuk mendengar kronologi perihal laporan yang ditujukan kepada dirinya selaku pemilik kandang atas tindakan sepihak Ketua RT yang mengatasnamakan warga dan diduga tidak prosedural tersebut.
Sdr. Yn menuturkan bahwa Ketua RT setempat membuat laporan dikarenakan kandang babi miliknya tersebut menimbulkan bau sehingga membuat beberapa warga setempat merasa tidak nyaman.
“RT itu lapor katanya kandang babi saya bau, setelah ditanya warga, warga bilang tidak ada bau, kemudian ada bahasa lagi yang muncul, kalau malam jam sepuluh baru bau. dicek lagi jam sepuluh malam bau tidak, ternyata tidak bau juga. Jadi saya lihat ini bukan masalah bau namun karena tidak senang ada kandang babi di sana.” tuturnya
Ia pun menambahkan bahwa sebelum ada pemukiman di dalam sana, Usaha ternak babi tersebut sudah ada di sana terlebih dahulu, bahkan pada awal mulanya hanya satu kandang dan sebagian babi dibiarkan berkeliaran di jalan. Namun dengan seiring bertambahnya penduduk di sana, sdr Yn, Demi toleransi, kemudian ia membuat pagar lalu membuat beberapa kandang lagi serta membuat septictank untuk menampung kotoran babi agar tidak menimbulkan bau. Hal tersebut ia lakukan demi menghargai warga setempat agar babi tidak berkeliaran ke mana-mana dikarenakan ada pemeluk agama yang berbeda.
Atas tindakan RT yang telah melaporkan kandang babi tersebut, kini permasalahan tersebut telah merembes ke mana-mana hingga ada dugaan tindakan intoleran, penghasutan, dan membuat berita bohong sehingga menimbulkan keresahan terhadap sesama warga yang dikhawatirkan akan merusak kerukunan umat beragama di Kabupaten Sorong.
Salah satu pemerhati kerukunan antar umat beragama, sekaligus pendiri Yayasan Lembah Klayili, Saruddin Inwasef, Putra Papua Muslim yang didampingi oleh Ketua MPO Gerakan Pemuda Ka’bah Kabupaten Sorong, Ruslan Rasid pun ikut berkomentar, Selasa, 5 Agustus 2025, mereka berdua menegaskan setelah melihat duduk permasalahan seperti apa di lapangan, mereka pun mengungkapkan turut menyayangkan tindakan tersebut.
“Kami turut prihatin, seharusnya sebelum jauh melangkah apalagi membuat laporan terkait dengan adanya dugaan bau dari kandang tersebut dan mengantisipasi agar tidak melebar ke mana-mana ini permasalahan, harus duduk musyawarah antar sesama warga RT setempat dengan melibatkan berbagai unsur-unsur yang memiliki wewenang, didudukkan seluruhnya termasuk pemilik peternakan, jangan langsung lapor ke mana-mana dulu, cari solusi dan jalan tengah sehingga tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, karena satu sisi ternak tersebut telah ada jauh sebelum ada masyarakat tinggal di sekitarnya. Kami terus terang, semalam kami ke sana, katanya ada yang sampaikan kalau malam bau, tapi setelah kami cek langsung ke sana, tidak ada bau apapun dari jalan umum, malahan yang saya cium bau itu adalah kotoran sapi yang di pinggir jalan”. Ungkapnya.
“Secara tidak langsung, kalau ada indikasi sentimen dan tidak senang, maka kami pun khawatir hal tersebut dapat menciderai keharmonisan dan kerukunan antar sesama warga di kabupaten Sorong. Kami berharap demi menjaga agar masyarakat hidup rukun, RT tersebut mendatangi rumah kediaman pemilik ternak babi lalu meminta maaf atas kekeliruan yang diperbuatnya. Kami berharap masalah ini jangan diperpanjang lagi. Mari kita bersama-sama bijak dalam menyikapi segala sesuatu.” Tambah Saruddin Inwasef, Suku Byak lahir Sorong.
Permasalahan ternak babi di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Sorong adalah permasalahan yang sangat sensitif, jika tidak ada penanganan yang baik dan adil dari berbagai pihak, tentu hal tersebut akan melebar ke mana-mana. Babi memiliki makna yang sangat penting, dan memiliki nilai budaya tinggi di Papua, bukan hanya sebagai sumber makanan, tetapi juga sebagai simbol kekayaan, status sosial, dan alat tukar dalam berbagai upacara adat dan transaksi sosial. Sehingga kehadiran pemerintah dalam mendorong adanya peternakan babi oleh masyarakat lokal setempat, maka secara tidak langsung telah mendorong ekonomi masyarakat. (Mz)


Tidak ada komentar