Belajar dari Houdini, Kepala BGTK Papua Barat Ajak Pegawai Ubah Cara Berpikir

Yusuf Muri Salampessy
18 Mei 2026 05:00
2 menit membaca

Manokwari, Papua Barat – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Papua Barat melaksanakan apel pegawai yang berlangsung di Lapangan Upacara BGTK Papua Barat, Selasa (19/5/2026). Apel tersebut dipimpin langsung oleh Kepala BGTK Papua Barat, Suharman, S.IP., M.KP., dan diikuti seluruh pegawai dengan penuh khidmat.

Dalam amanatnya, Suharman menyampaikan motivasi dan refleksi mendalam mengenai tantangan kehidupan serta pola pikir dalam menghadapi persoalan pekerjaan maupun keluarga. Beliau mengangkat kisah inspiratif tentang Harry Houdini, seorang pesulap legendaris dunia yang dikenal dengan kemampuan meloloskan diri dari berbagai belenggu dan kurungan.

Harry Houdini lahir di Budapest, Hungaria, pada 24 Maret 1874. Ia memulai karier sulapnya pada tahun 1891 dan menjadi terkenal melalui aksi-aksi ekstrem, salah satunya “Chinese Water Torture Escape”, yaitu aksi meloloskan diri dari peti berisi air dalam posisi terbalik.

Menurut Suharman, kisah Houdini memiliki makna mendalam yang dapat menjadi pelajaran bagi pegawai BGTK Papua Barat dalam menjalankan tugas dan kehidupan sehari-hari.

“Sebagai pegawai, kita juga memiliki tantangan masing-masing. Ada yang harus bekerja jauh dari istri dan keluarga, ada yang menghadapi keterbatasan, dan ada pula yang harus beradaptasi dengan berbagai kondisi di tempat tugas,” ungkapnya.

Beliau kemudian menceritakan salah satu pengalaman Houdini ketika berada di dalam sebuah penjara. Sebagai pesulap yang terbiasa membuka berbagai jenis borgol dan kunci, Houdini berusaha keras untuk keluar dari sel tersebut. Namun, setelah berupaya cukup lama, ia akhirnya menyerah karena merasa tidak mampu membuka pintu penjara itu.

Padahal, pintu penjara tersebut sebenarnya tidak pernah dikunci.

Melalui kisah tersebut, Suharman menekankan bahwa sering kali seseorang terjebak pada pola pikir dan kebiasaan yang sama dalam menyelesaikan masalah. Karena terlalu yakin bahwa setiap persoalan harus diselesaikan dengan cara tertentu, seseorang terkadang lupa melihat kemungkinan lain yang sebenarnya sederhana.

“Houdini gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena cara berpikirnya sudah terbentuk oleh kebiasaan sehari-hari. Ia tidak sempat berpikir apakah pintu itu benar-benar terkunci atau tidak,” jelasnya.

Beliau mengajak seluruh pegawai untuk memiliki pola pikir yang terbuka, kreatif, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Menurutnya, perubahan cara berpikir dapat membuka solusi yang selama ini tidak terlihat.

Apel pagi tersebut berlangsung dengan tertib dan penuh semangat, sekaligus menjadi momentum refleksi bagi seluruh pegawai untuk terus meningkatkan dedikasi, profesionalisme, dan semangat pelayanan dalam mendukung kemajuan pendidikan di Papua Barat.

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x