
Sorong,katatanahpapua.com — Sejarah kehadiran Muhammadiyah di Tanah Papua termasuk salah satu bagian yang masih minim didokumentasikan dalam historiografi keislaman Indonesia.
Berbeda dengan awal mula kehadiran Muhammadiyah di tanah Jawa yang memiliki catatan arsip kolonial Belanda yang relatif lengkap.
Sejarah Papua bahkan termasuk di dalamnya mengenai sejarah masuknya organisasi-organisasi Islam modern seperti Muhammadiyah ini, banyak bersandar pada tradisi lisan.
Catatan yang sporadis maupun hasil penelitian terkait dengan Muhammadiyah di Tanah Papua, mulai berkembang dalam beberapa dekade terakhir.
Meski demikian, sejumlah sumber baik beberapa tokoh yang masih hidup maupun ragam peninggalannya bersepakat menempatkan titik rintisan awal Muhammadiyah di tanah Papua berada pada dekade 1930-an, tidak lama setelah persyarikatan Muhammadiyah ini tumbuh pesat di Jawa dan mulai melebarkan sayap ke luar pulau sejak akhir 1920-an.

Setelah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta, pada 18 November 1912, Muhammadiyah mengalami pertumbuhan keanggotaan yang cukup pesat pada dekade 1920-an, dari sekitar 4.000 anggota pada masa awal, menjadi 10.000 anggota pada tahun 1928, setelah itu bertambah lagi 17.000 anggota pada tahun 1929, dan meningkat lagi 24.000 anggota pada tahun 1931.
Momentum pertumbuhan inilah yang mendorong persyarikatan Muhammadiyah mulai membuka cabang-cabang di luar Jawa pada dekade 1930-an, termasuk ke wilayah-wilayah timur Nusantara seperti Sulawesi dan, sedikit demi sedikit, ke tanah Papua.
Titik rintisan yang paling sering dirujuk dalam berbagai sumber adalah kedatangan Tengku Bujang ke Merauke pada tahun 1930.
Ia berstatus orang buangan atau digulis—sebutan bagi tahanan politik yang diasingkan pemerintah kolonial Belanda ke kamp interniran Boven Digoel di pedalaman Merauke yang kini telah menjadi Ibukota Provinsi baru, yakni Papua Selatan.
Kamp ini didirikan Belanda pada 1927 untuk mengisolasi tokoh-tokoh pergerakan nasional dan komunis yang dianggap membahayakan, sebagian besar berasal dari Jawa dan Sumatra.
Jalur pengasingan inilah yang secara tidak langsung menjadi salah satu pintu masuk penting bagi penyebaran Islam yang terorganisir, salah satunya termasuk Muhammadiyah ke wilayah Papua Selatan.
Para digulis membawa serta wawasan keagamaan dan keorganisasian dari tanah asal mereka, meski status mereka sebagai tahanan politik, sekalipun terdapat pembatasan ruang gerak dakwah secara terbuka.
Di Merauke, Tengku Bujang memulai dakwahnya dengan mendirikan Masjid Sepadin (dalam sejumlah sumber juga ditulis “Spadin”).
Dari masjid inilah ia mulai mempraktikkan ajaran keislaman ala Muhammadiyah di wilayah tersebut, ia menjadi orang pertama yang mengumandangkan khutbah Jumat berbahasa Indonesia, alih-alih bahasa Arab atau bahasa daerah semata, sehingga jemaah setempat lebih mudah memahami isi dakwah.
Ia juga memelopori penyelenggaraan Salat Id di lapangan terbuka, sebuah praktik yang kelak menjadi ciri khas persyarikatan Muhammadiyah di banyak daerah lain di wilayah Tanah Papua.
Dari basis dakwah di Masjid Sepadin inilah Tengku Bujang kemudian membentuk persyarikatan Muhammadiyah, sehingga ia dicatat sebagai tokoh yang merintis kehadiran Muhammadiyah untuk pertama kalinya di Tanah Papua.
Perintisan Tengku Bujang di Merauke berlangsung di tengah situasi yang tidak berimbang antara dukungan pemerintah kolonial terhadap misi Kristen/Katolik dan sikapnya terhadap syiar Islam.
Sebagai perbandingan, misi Katolik sudah lebih dahulu hadir di Merauke sejak Agustus 1905 melalui kedatangan Pastor H. Nollen, Pastor P. Braun, dan Bruder Roessel, yang berfokus pada kajian bahasa lokal serta pengajaran membaca, berhitung, dan menulis bagi penduduk asli, bahkan pada tahun 1921 misi Katolik mulai mendirikan sekolah-sekolah formal bagi anak-anak Papua.
Pemerintah kolonial Belanda secara umum mendukung penuh penyebaran Kristen dan Katolik di Papua, namun sikap ini bertolak belakang dengan perlakuan mereka terhadap dakwah Islam, tidak ada dukungan serupa, misalnya, bagi pendidikan anak-anak Muslim pribumi.
Akibatnya, syiar Islam di Papua sejak masa penjajahan Belanda lebih banyak bergantung pada inisiatif dan swadaya umat Islam sendiri, sebagaimana tercermin dari perintisan Tengku Bujang di Merauke maupun perintisan sebelumnya oleh Haji Abdul Majid, yang pada 1910 telah mendirikan pendidikan Islam yang hingga kini dikenal nama YAPIS (Yayasan Pendidikan Islam) di Tanah Papua dan membangun masjid pertama di Jayapura.
Meski mayoritas sumber menyebut 1930 sebagai tahun kedatangan Tengku Bujang dan cikal bakal Muhammadiyah di Merauke, terdapat pula keterangan berbeda dari kalangan internal Muhammadiyah sendiri.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam sebuah keterangan resmi menyebutkan bahwa Muhammadiyah telah masuk ke Merauke sejak 1926—empat tahun lebih awal dari tahun yang umum dirujuk.
Perbedaan ini kemungkinan mencerminkan perbedaan antara “kehadiran embrional” komunitas atau individu berlatar Muhammadiyah di Merauke (yang bisa jadi sudah ada sejak pertengahan 1920-an, sejalan dengan gelombang awal digulis) dengan “pembentukan organisasi” secara resmi pada 1930.
Perbedaan tahun semacam ini menegaskan kembali catatan pada bagian historiografi dokumen ini, kronologi rinci perintisan Muhammadiyah di Papua masih memerlukan verifikasi silang lebih lanjut melalui arsip dan sumber primer.
Tidak lama setelah rintisan di Merauke yang dirintis oleh Tengku Bujang, Persyarikatan Muhammadiyah pusat tercatat mengirimkan tenaga dakwah / muballig ke Merauke yakni antara tahun 1933 hingga 1936, setidaknya tiga mubaligh dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah kala itu yang dikirim: Ustadz Jais, Ustadz Asarar, dan Ustadz M. Chatib.
Pengiriman ini menunjukkan bahwa perintisan persyarikatan Muhammadiyah di Papua, khususnya di Merauke, bukan semata inisiatif perorangan di lapangan, melainkan juga mendapat perhatian dari jaringan dakwah Muhammadiyah yang lebih luas.





Tidak ada komentar