
Jakarta,katatanahpapua.com — Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, para akademisi lintas perguruan tinggi keagamaan secara resmi mendeklarasikan pendirian Asosiasi Dosen Keagamaan Indonesia (ADKI). Senin, 17 Agustus 2026.
Deklarasi ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi intelektual serta kontribusi strategis sivitas akademika keagamaan terhadap pembangunan bangsa.
Pendirian wadah profesi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak untuk mengonsolidasikan riset, pengembangan kurikulum, advokasi profesi, dan pengabdian masyarakat yang inklusif serta transformatif di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan.
Salah satu pendiri ADKI, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa pemilihan momentum HUT RI bukan sekadar simbol seremonial, melainkan penegasan komitmen kebangsaan kalangan akademisi keagamaan.
“Kemerdekaan Indonesia diraih dan dipertahankan lewat integrasi nilai keagamaan dan kebangsaan. Kehadiran ADKI adalah wujud bakti sivitas akademika dalam mengisi kemerdekaan melalui penguatan tradisi ilmiah, kolaborasi riset lintas disiplin, serta menghadirkan kajian keagamaan yang moderat dan berdampak langsung pada masyarakat,” ujar Ismail Suardi Wekke.
Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa selama ini atribusi Indonesia, selalu salah satunya pada posisi sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
“Hanya saja, itu satu hal. Pada potret yang lain, Indonesia juga menjadi rumah bagi tumbuhnya keberagaman dalam keberagamaan. Di Indonesia kita ada juga perguruan tinggi Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Kesemuanya ini merupakan wajah Indonesia yang dapat menjadi instrumen diplomasi keilmuan di tingkat global,” jelas Ismail Suardi Wekke.
Dalam peta jalan organisasinya, ADKI memprioritaskan peningkatan kapasitas riset interdisipliner guna mendongkrak luaran publikasi ilmiah dosen keagamaan di tingkat internasional.
Langkah ini dipandang krusial agar perspektif keilmuan keagamaan dari Indonesia dapat mewarnai diskursus akademik global.
Di sisi lain, asosiasi ini turut mengambil peran aktif dalam advokasi dan pengembangan profesi pendidik. ADKI berkomitmen memperjuangkan ekosistem kerja akademik yang sehat, mendorong adaptasi teknologi digital dalam pengajaran, serta mengawal jenjang karier para dosen keagamaan di seluruh Indonesia.
Aspek pengabdian masyarakat dan moderasi beragama juga menjadi pilar utama pergerakan ADKI. Para akademisi yang tergabung di dalamnya diarahkan untuk terus menghadirkan kajian keagamaan kontekstual yang solutif terhadap problematika sosial kontemporer sekaligus merawat harmoni keberagamaan di tengah kemajemukan bangsa.
Melalui deklarasi ini, ADKI diharapkan dapat segera memperluas jejaring kolaborasi nasional maupun internasional serta memosisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan tinggi keagamaan masa depan.





Tidak ada komentar