
Ismail Suardi Wekke (Redaktur Senior Kata Tanah Papua)
Sorong,katatanahpapua.com — Dedikasi yang tulus mampu meruntuhkan sekat perbedaan dan membangun peradaban dari beranda paling timur Indonesia. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Dr. Rustamadji, M.Si., Rektor Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong. Atas kiprahnya yang luar biasa dalam bidang pendidikan dan sosial, beliau dianugerahi penghargaan bergengsi sebagai salah satu Tokoh Perubahan Republika.
Merajut Asa Suku Kokoda
Perjalanan Rustamadji di tanah Papua telah berlangsung selama hampir setengah abad. Salah satu rekam jejak pengabdiannya yang paling monumental dimulai pada tahun 2007, saat ia tergerak oleh kondisi memprihatinkan yang dialami warga asli Suku Kokoda di Kabupaten Sorong, Papua Barat. Saat itu, mereka hidup berpindah-pindah di atas tanah yang bukan milik mereka dan tinggal di pondok-pondok beratapkan daun.
Bergerak cepat, Rustamadji menggandeng berbagai elemen mulai dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lazismu, hingga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mengubah nasib suku tersebut. Hasil dari kolaborasi nyata ini sangat menyentuh: warga Suku Kokoda kini memiliki pemukiman permanen di Kampung Warmon Kokoda, lengkap dengan sertifikat tanah hibah. Tak hanya hunian, akses jalan, air bersih, tempat ibadah, hingga fasilitas pendidikan seperti TK dan SD Lab School serta Rumah Baca kini telah berdiri kokoh melayani masyarakat setempat.

Unimuda dan Rustamadji: Dua Sisi Koin Perubahan
Bicara tentang kemajuan pendidikan modern di Sorong tidak akan bisa dilepaskan dari sosok Rustamadji; keduanya ibarat dua sisi koin yang saling melengkapi dan tak terpisahkan. Jauh sebelum kampus megah ini berdiri, Rustamadji adalah sang pionir yang merintis pendidikan dasar hingga menengah Muhammadiyah di tanah Sorong. Bermula dari pendirian STKIP Muhammadiyah Sorong pada tahun 2004 hingga bertransformasi menjadi universitas, keringat dan visi besarnya tertanam kuat di setiap sudut kampus.
Bagi Rustamadji, setiap jengkal tanah Papua memegang cerita perjuangan dan kebersamaan. Menetap selama lebih dari 48 tahun membuat jiwanya telah menyatu dengan bumi Cendrawasih. Karakter kepemimpinannya yang humanis tecermin dari bagaimana ia memandang potensi lokal. Ia selalu menanamkan keyakinan kepada anak-anak Papua bahwa mereka memiliki kapasitas yang sama untuk maju dengan suku bangsa lain di dunia. Keterikatan emosional yang mendalam inilah yang membuatnya menegaskan bahwa ia sama sekali tidak memiliki rencana untuk pindah dari Papua ke tempat lain.
Unimuda Sorong: Laboratorium Toleransi Nyata
Di bawah kepemimpinannya, UNIMUDA Sorong telah berkembang menjadi oase keberagaman yang mematahkan stereotip eksklusivitas institusi keagamaan. Faktanya, pada penerimaan mahasiswa baru saja, dari ribuan pendaftar yang lolos, sebanyak 79 persen di antaranya merupakan anak-anak asli Papua yang berlatar belakang non-Muslim.
Salah satu potret keberagaman di UNIMUDA tercermin saat prosesi wisuda Ermelinda A. Hale, seorang biarawati Katolik asal Kupang, NTT. Ermelinda berhasil menyelesaikan studi sarjananya di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dengan dukungan penuh dari lingkungan kampus dan tarekatnya. Pengalaman Ermelinda membuktikan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati hidup subur di dalam ruang-ruang kelas UNIMUDA.
Harmoni Unimuda dan Kokoda: Sajadah di Atas Tanah Ulayat
Sebagai penutup, ikatan yang terjalin antara UNIMUDA, Rustamadji, dan Suku Kokoda adalah manifestasi tertinggi dari indahnya keberagaman Indonesia. Ketika Muhammadiyah menghibahkan tanah dan membangun pemukiman permanen, sebuah ruang spiritual dan sosial yang baru telah lahir di atas tanah adat. Di sinilah nilai-nilai keislaman digelar layaknya sajadah yang sejuk—menghadirkan kedamaian, rasa hormat, dan pemberdayaan tanpa sedikit pun mengikis hak atau identitas masyarakat adat di atas tanah ulayat mereka.
Melalui harmoni ini, Papua tidak hanya mencontohkan bagaimana merawat kebinekaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana komitmen kemanusiaan bisa berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Bersama Suku Kokoda dan ribuan mahasiswa dari berbagai latar belakang, Rustamadji dan UNIMUDA Sorong menorehkan cerita abadi bahwa ketika ketulusan bertemu dengan keterbukaan, perdamaian bukan lagi sekadar retorika, melainkan napas kehidupan sehari-hari di ujung timur Nusantara.





Tidak ada komentar