ITB dan Australia Bersatu Kembangkan Teknologi Agrivoltaics demi Terangi Desa-Desa Terpencil di Indonesia Timur

Kata Tanah Papua
28 Jun 2026 07:23
3 menit membaca

Bandung,katatanahpapua.com — Sebuah langkah strategis dalam dunia riset energi terbarukan resmi dimulai. Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset dari Indonesia dan Australia menjalin kolaborasi untuk mengembangkan teknologi agrivoltaics — sistem yang memadukan pembangkit listrik tenaga surya dengan kegiatan pertanian — sebagai jawaban atas tantangan energi dan kemiskinan di wilayah pedesaan serta pulau-pulau terpencil di Indonesia Timur.

Langkah ini diwujudkan melalui Kick-off Meeting sekaligus Simposium Bilateral bertema “Agrivoltaics and Energy Challenge in Rural and Remote Islands in Eastern Indonesia” yang dilangsungkan di Gedung Rekayasa Molekuler dan Material Fungsional (Labtek XV) ITB, Bandung, Rabu (25/6/2026).

Forum ini merupakan bagian dari program kerja sama KONEKSI LPDP Indonesia–Australia. Dr. Acep Purqon, Dosen Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks FMIPA ITB sekaligus ketua tim peneliti program, menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar soal teknologi, melainkan sebuah ekosistem kolaborasi lintas disiplin ilmu.

“Transisi energi membuka begitu banyak peluang — mulai dari riset, inovasi, hingga pemberdayaan masyarakat. Di sinilah pertanian, kehutanan, teknik, bisnis, dan manajemen bertemu untuk menjawab krisis energi bersama-sama,” ungkapnya.

Kolaborasi ini melibatkan Murdoch University dan Griffith University dari Australia, serta dari sisi Indonesia terdiri atas ITB, BRIN, Universitas Padjadjaran, Universitas Cenderawasih, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Politeknik Negeri Fakfak, IAIN Sorong, dan Purnomo Yusgiantoro Center.

Para akademisi dari kedua negara turut mendiskusikan berbagai aspek pengembangan agrivoltaics, mulai dari sisi teknologi, strategi implementasi di daerah terpencil, hingga pemberdayaan masyarakat lokal.

Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA ITB, Dr. Dwi Irwanto, menyebut program ini mencerminkan komitmen ITB dalam melahirkan solusi nyata atas krisis energi nasional.

“Kami mendorong berbagai pendekatan inovatif, termasuk agrivoltaics, untuk menemukan formulasi yang paling sesuai dengan keunikan karakteristik wilayah Indonesia,” ujarnya.

Dalam forum yang sama, Deputi Investasi dan Pendanaan BOPPJ, M. Irfan Saleh, menyoroti besarnya peluang investasi di sektor ini sekaligus perlunya dukungan regulasi yang memungkinkan aktivitas ekonomi berbasis energi terbarukan tumbuh di kepulauan terpencil Indonesia Timur.

Acep menekankan bahwa keberhasilan agrivoltaics tidak bisa hanya bertumpu pada kecanggihan teknologi. Diperlukan sinergi dari berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix.

“Kolaborasi lima pilar ini yang akan menggerakkan transisi energi sekaligus mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di desa,” katanya.

Tak kalah penting pula, program ini secara khusus menempatkan masyarakat — terutama perempuan, generasi muda, dan kelompok yang selama ini terpinggirkan — sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat.

Pendekatan yang dikembangkan memadukan inovasi ilmiah dengan kearifan lokal di sektor pertanian, perikanan, dan energi terbarukan.

Perwakilan Program KONEKSI LPDP, Parana Ari Santi, mengapresiasi sinergi yang terbangun antara peneliti kedua negara. Menurutnya, koordinasi yang solid menjadi kunci agar riset ini benar-benar berdampak bagi masyarakat.

Pengembangan agrivoltaics ini sejalan dengan target ambisius pemerintah dalam RUPTL 2025–2034, yakni penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan lebih dari 42 GW atau sekitar 61 persen berasal dari energi baru terbarukan.

Porsi energi terbarukan dalam bauran kelistrikan nasional ditargetkan melonjak dari 15–16 persen pada 2025 menjadi 34 persen pada 2034, sebagai bagian dari komitmen NDC 2030 dan Net Zero Emission 2060.

Dengan pendekatan agrivoltaics, desa-desa di Indonesia Timur tidak lagi dipandang hanya sebagai wilayah yang terdampak pembangunan energi. Mereka kini diposisikan sebagai mitra strategis — penghasil energi bersih sekaligus motor penggerak ekonomi lokal yang mandiri.

Kegiatan ditutup oleh Erlin Puspaputri, mewakili Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (M)

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x