Kompleks Al-Amin, Jejak Muhammadiyah Sorong dan Kontribusi H. Abdul Rauf Abu (Bagian Ketujuh)

Kata Tanah Papua
22 Jul 2026 12:58
5 menit membaca

Penulis: Muhammad Adnan Firdaus (Mantan Wartawan Majalah Islam SABILI Jakarta dan Harian Umum Fajar Papua Sorong)

KAPAL MOTOR CAHAYA RAHMAT dan INTAN RAYA YANG FENOMENAL

Selain memiliki Kapal Motor Intan Raya. Rauf Abu dengan CV Cahaya Rahmatnya juga memiliki 5 Armada Laut lainnya, masing-masing: Kapal Motor Cahaya Rahmat 1, Kapal Motor Cahaya Rahmat 2, Kapal Motor Cahaya Rahmat 3, Kapal Motor Cahaya Rahmat 4, Kapal Motor Telaga Rahmat.

Sedangkan “kompetitor” di kelasnya saat itu-di Tahun 1970an- bahkan dengan bobot dan ukuran lebih besar adakah Kapal Motor Rahayu dan Kapal Motor Nurbaya, Milik Toko Rahayu.

Kapal-kapal motor ini, mewarisi DNA Bugis Makassar yang terkenal sebagai pelaut ulung.

6 Armada Kapal Kayu Milik Rauf Abu Toko Rahmat ini berukuran kecil, sedang hingga besar.

Sarana transportasi milik pihak swasta Toko Rahmat dan Toko Rahayu ini sangat membantu pemerintah dalam menembus akses Pulau-Pulau di Papua (baca:Irian Barat, Irian Jaya saat itu).

Pergerakan manusia dan barang dari dan ke Teminabuan Sorong Selatan saat itu, jadi sangat terbantu dengan adanya kapal-kapal Milik Toko Rahmat dan Toko Rahayu.

Dari Link Facebook Postingan TEMPO DOELEO SORONG yang diperlihatkan Cucu Rauf Abu, Muhammad Rusdi Rahman kepada Penulis ditemukan data dan fakta yang sangat menarik tentang kiprah dan “jasa” kapal-kapal motor ini.

Di Postingan Group Facebook TEMPO DOELOE SORONG Kontributor all-star yang ditulis oleh Jan Karel Torey 8 Juli 2025.

Jan Karel Torey di antaranya menuliskan sebagai berikut:

” Teminabuan Doeloe.

Kapal kayu ini saya foto dari Jembatan Ferry Jalan Baru di Klademak 2 Pantai , Tanggal 08 Juli 2019.

Lihat kapal kayu ini, ingatan saya mundur ke belakang di Tahun 1970an awal, masa saya anak-anak.

Tahun-tahun itu kalau orang mau berangkat ke Teminabuan, alat transportasi memakai kapal-kapal kayu model begini.

Nama kapal kayunya yang saya ingat adalah KM Cahaya Rahmat.

Kapal ini mungkin milik Toko Rahmat di deretan toko-toko yang di sebelah Polres Sorong Kota sekarang.

Bersebelahan dengan Toko Rahayu pada waktu itu.

Saat itu, kalau mau ke Teminabuan aksesnya hanya lewat laut dan biasanya pakai kapal atau motor laut.

Tahun 1974 sampai 1975, kakak saya Ibu Guru Roos Torey jadi Guru SD di Teminabuan.

Jadi kalau mereka mau berangkat ke Teminabuan sana dan kembali ke Sorong, mereka sering pakai kapal KM Cahaya Rahmat ini.

Saya lupa nama kapal yang lain…….”

Postingan di Facebook (08/07/2025) tersebut sontak mendapat banyak like dan komentar.

Dua komentar dari netizen atas nama: Abdulla Abdu dan Caya Wahid menvalidasi postingan Jan Karel Torey tersebut.

Abdullah Abdu menuliskan komentarnya sebagai berikut:

” Saya dulu ke Teminabuan Tahun 1978 naik kapal KM Cahaya Rahmat 4. Naik dari pelabuhan besar perjalanan 2 malam 1 hari.

Keluar Tanjung Seget dihantam ombak besar.

Di jaman kapal kayu yang sering ketemu adalah KM Nurbaya, Cahaya Rahmat 4 dan 3, Emor Simson, Panca Putra 2, Padaidi dan KM Batanta…..”

Sementara itu komentar atas Postingan Jan Karel Torey yang juga ikut membenarkan Kepemilikan Toko Rahmat atas Kapal Motor Cahaya Rahmat.

Plus kontribusinya sebagai sarana transportasi masyarakat yang menghubungkan Sorong Teminabuan dan sebaliknya dipertegas oleh Caya Wahid.

Caya Wahid yang saat ini merupakan Pensiunan Karyawan Bank Mandiri Sorong menuliskan begini:

” Transportasi Sorong ke Teminabuan Tahun 1970an, kapal motor kayu nama kapalnya Cahaya Rahmat 1 sampai dengan 4.

Ada empat kapal.

Pemiliknya Toko Rahmat. Kapal yang lebih besar lagi Kapal Motor Rahayu dan Nurbaya Pemiliknya Toko Rahayu…..”

Subhanallah.

KAPAL PRODUKSI BIRA BULUKUMBA

Seluruh kapal motor kayu yang disebutkan di atas dipesan langsung dan dibuat di tempat pembuatan kapal kayu atau Kapal Phinisi: Bira Bulukumba Sulawesi Selatan.

Pemesanan langsung ke tempat pembuatannya yang asli.

Tentu menjamin kualitas dan estetika kapal-kapal yang dipesan dari Sorong langsung di tempat asal.

Keaslian dan kepuasan pemesan, tentu akan lebih terjamin dibandingkan jika kapal-kapal ini dipesan di tempat lain.

Dalam sejarahnya, kapal kayu sekelas Kapal Phinisi buatan Bira Bulukumba Sulawesi Selatan.

Tercatat, bahkan pernah berlayar hingga ke Madagaskar Afrika Selatan.

Sementara itu, ditambahkan Muhammad Rahmat Cucu Laki-Laki Rauf Abu.

Yang bercerita kepada Penulis, Minggu (19/07/2026).

Dirinya, Muhammad Rahmat memberikan informasi yang menarik kepada Penulis.

Apa itu?

Rahmat menuturkan bahwa saat kapal-kapal motor ini selesai dibuat di Bira Bulukumba Sulawesi Selatan.

Pelepasan dan perjalanannya menuju Papua adalah dengan berlayar bersama.

Bisa dibayangkan, seandainya saat itu sudah ada Youtube seperti saat ini.

Betapa menariknya jika perjalanan beriringan kapal-kapal pesanan Toko Rahmat ini didokumentasikan menggunakan vidio.

Lalu diolah oleh para konten kreator.

Lanjut cerita, masih menurut Rahmat, Kapal Motor KM Cahaya Rahmat ini berlayar beriringan dari Bira Bulukumba Sulawesi Selatan menuju Sorong Papua Barat Daya.

Ditambahkan Muhammad Rahmat, sosok yang bernama H. Nurdin, akrab dipanggil H. Nuru adalah satu dari beberapa kapten kapal yang diajak langsung Rauf Abu untuk menakhodai salah satu dari kapal tersebut.

Setelah kapal-kapal tersebut telah resmi dioperasikan. Dan Rauf Abu membutuhkan tenaga profesional dari keluarga untuk menakhodai kapal tersebut.

Kapal sempat juga difungsikan bahkan untuk mengangkut penumpang Rute Sorong Makassar, Makassar Sorong.

Begini keterangan Muhammad Rahmat:

” Kapal berangkat dari Pelabuhan Paotere Gusung Kota Makassar. Tiba di Sorong kurang lebih 1 minggu perjalanan. Sebentar saja,” ujarnya, dimana informasi tersebut turut dibenarkan Muhammad Rusdi adiknya.

Disisi lain, informasi menarik lain turut ditambahkan Keponakan Kandung Rauf Abu bernama Fathurrahman Dahlan.

Fathur Rahman Dahlan lama mengabdi jadi Karyawan Toko Rahmat.

Menurut Fathur Rahman, kapal-kapal milik Toko Rahmat ini, selain mengangkut barang.

Juga mengangkut penumpang dengan rute seputar Kepala Burung: Inanwatan sampai Sorong Selatan.

Menariknya, masih menurut Fathur Rahman Dahlan.

Beberapa kapal laut Milik Rauf Abu ini “berjasa” dan dipergunakan menyambut kedatangan para transmigran pertama dari Jawa ke Sorong.

Sekaligus mengangkut dan mengantar mereka ke lokasi transmigrasi yang dituju.

Fathurrahman menuturkan begini:

” Waktu itu, Akhir Tahun 1970an. Awal Tahun 1980an, Kapal Motor Intan Raya ikut mengangkut transmigrasi,” ujarnya.

Sementara itu, untuk diketahui, program transmigrasi ke Papua sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia.

Pemerintah Orde Baru memulainya pertama kali Tahun 1966.

Kala itu, Sorong menjadi salah satu tujuan awal.

Dan disinilah Armada Kapal CV Cahaya Rahmat, spesifik KM Intan Raya berkontribusi membantu program pemerintah: menjemput para transmigran edisi awal dari Bandara Pulau Jefman, Sorong.

Lalu mengantarkannya sesuai lokasi dituju yang telah ditentukan pemerintah.

Pada 1976-1977, sekitar 60 Keluarga dari Jawa Timur ditempatkan di Distrik Klasaman.

(BERSAMBUNG)……

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x