
Fakfak, Papua Barat – Puncak peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak berlangsung semakin semarak dengan hadirnya door prize istimewa berupa umrah gratis yang diberikan oleh Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN).

Pada awalnya, AFKN menyiapkan 10 paket umrah gratis bagi peserta yang beruntung. Namun, dalam suasana penuh kebersamaan dan antusiasme masyarakat, jumlah tersebut kemudian ditambah menjadi 20 paket umrah gratis.
Penambahan jumlah door prize tersebut sontak menambah kemeriahan acara. Kesempatan menunaikan ibadah ke Tanah Suci tentu bukan sekadar hadiah biasa, tetapi menjadi hadiah spiritual yang memiliki makna mendalam bagi para penerimanya.
Pemberian umrah gratis ini sekaligus menjadi salah satu bentuk kepedulian dan semangat berbagi AFKN dalam momentum bersejarah perjalanan panjang Islam di Tanah Papua.
Peringatan tahun ini mengusung tema:
“Merajut Toleransi, Memperkokoh Harmoni, Mengabdi untuk Pembangunan Negeri.”
Tema tersebut menegaskan bahwa peringatan sejarah tidak hanya diarahkan untuk mengenang perjalanan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pendiri Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ustadz Fadlan Garamatan, menyampaikan bahwa pemberian umrah gratis tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat yang mengikuti peringatan 666 Tahun Islam Masuk Tanah Papua.

Menurutnya, sejarah panjang perjalanan Islam di Tanah Papua seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk kebermanfaatan yang dapat dirasakan langsung oleh umat dan masyarakat.
“Awalnya kami menyiapkan 10 paket umrah gratis. Namun melihat antusiasme, kebersamaan, dan semangat masyarakat yang hadir, jumlah itu kemudian kami tambah menjadi 20 paket. Semoga ini menjadi berkah dan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita yang mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci,” ujar Ustadz Fadlan Garamatan.
Ia menegaskan bahwa dakwah tidak hanya hadir melalui ceramah dan mimbar, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian, penguatan persaudaraan, dan tindakan yang membawa manfaat.
“Kita tidak cukup hanya berbicara tentang sejarah panjang Islam di Tanah Papua. Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita berikan hari ini. Islam harus hadir membawa rahmat, mempererat persaudaraan, membantu sesama, dan ikut membangun Tanah Papua,” katanya.
Dalam pandangannya, peringatan 666 tahun Islam di Tanah Papua juga menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat Papua yang majemuk.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat kebersamaan dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dalam membangun daerah.
“Papua adalah rumah kita bersama. Mari saling merangkul, bukan memukul; saling membina, bukan menghina; saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Perbedaan jangan menjadi alasan untuk berjarak, tetapi menjadi kekuatan untuk bersama-sama membangun negeri,” pesannya.
Ustadz Fadlan juga menaruh perhatian pada generasi muda Muslim Papua. Ia berharap generasi muda tidak hanya bangga terhadap sejarah panjang Islam di Tanah Papua, tetapi juga mampu menciptakan sejarah baru melalui pendidikan, dakwah, kewirausahaan, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
“666 tahun bukan hanya tentang berapa lama Islam hadir di Tanah Papua, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang telah dan akan kita berikan untuk Papua,” pungkasnya.
Puncak peringatan 666 Tahun Islam Masuk Tanah Papua turut dihadiri berbagai unsur masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, serta berbagai elemen lainnya.
Suasana kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa perjalanan Islam di Tanah Papua tumbuh di tengah masyarakat yang beragam dan memiliki semangat persaudaraan yang kuat.
Pemberian 20 paket umrah gratis oleh AFKN menjadi salah satu momen yang paling menarik perhatian. Bukan hanya karena nilai hadiahnya, tetapi juga karena pesan yang menyertainya: bahwa dakwah dapat hadir dalam bentuk kepedulian dan kebahagiaan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Momentum ini sekaligus mengingatkan bahwa peringatan sejarah akan semakin bermakna ketika mampu melahirkan karya, kepedulian, dan pengabdian.
Dari Fakfak, peringatan 666 Tahun Islam Masuk Tanah Papua kembali menyampaikan pesan bahwa perjalanan dakwah bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang apa yang dapat diberikan untuk hari ini dan masa depan.


Tidak ada komentar