666 Tahun Islam di Tanah Papua: Apa Makna Kehadirannya bagi Toleransi dan Harmoni Hari Ini?

Yusuf Muri Salampessy
8 Agu 2026 01:52
4 menit membaca

Oleh: Yusuf Muri Salampessy, M.Pd
Muballigh Muda Papua Barat & Papua Barat Daya

Peringatan 666 Tahun Islam Masuk di Tanah Papua menjadi momentum penting untuk kembali melihat perjalanan panjang Islam di tanah yang penuh keberagaman ini. Namun, peringatan sejarah tersebut semestinya tidak berhenti pada pembicaraan tentang kapan Islam pertama kali datang, di mana pertama kali berpijak, dan siapa yang pertama kali membawanya.

Sejarah tentu penting untuk dipelajari, diluruskan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Akan tetapi, setelah lebih dari enam abad perjalanan Islam di Tanah Papua, terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting untuk direnungkan bersama: seberapa besar manfaat kehadiran Islam dan umat Islam bagi masyarakat Tanah Papua hari ini?

Inilah semangat yang terkandung dalam tema:

“Merajut Toleransi, Memperkokoh Harmoni, Mengabdi untuk Pembangunan Negeri.”

Islam hadir dengan membawa pesan rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, wajah Islam di Tanah Papua harus terus ditampilkan melalui kedamaian, keteladanan, kepedulian sosial, pendidikan, persaudaraan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Papua yang dianugerahi keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, budaya, dan agama.

Perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh. Perbedaan seharusnya menjadi kekuatan untuk saling mengenal, menghargai, menjaga, serta bersama-sama membangun Tanah Papua.

Karena itu, momentum 666 tahun perjalanan Islam hendaknya menjadi ruang muhasabah bagi umat Islam.

Sudahkah kehadiran kita memberikan rasa aman kepada saudara-saudara di sekitar kita?

Sudahkah masjid, majelis taklim, organisasi Islam, lembaga pendidikan, dan para muballigh menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat?

Sudahkah umat Islam mengambil bagian dalam meningkatkan pendidikan, mengurangi kemiskinan, menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi masyarakat, dan membangun generasi muda Papua?

Sebab ukuran keberhasilan dakwah bukan hanya berapa banyak orang yang mendengarkan ceramah, tetapi juga berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena hadirnya nilai-nilai Islam.

Merajut Toleransi

Toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. Toleransi adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam keyakinan sekaligus menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Di Tanah Papua, semangat ini harus terus dirawat.

Mari saling merangkul, bukan memukul.
Mari saling membina, bukan menghina.
Mari saling menguatkan, bukan menjatuhkan.
Mari saling menghargai, bukan mencaci.
Mari saling menasihati, bukan menghakimi.
Mari saling menyatukan, bukan memecah belah.

Dakwah tidak selalu harus disampaikan dengan suara yang keras. Kadang-kadang dakwah yang paling kuat justru hadir melalui akhlak, kepedulian, kejujuran, serta kesediaan membantu siapa pun tanpa melihat perbedaan latar belakangnya.

Memperkokoh Harmoni

Papua adalah rumah bersama. Karena itu, kedamaian Tanah Papua merupakan tanggung jawab bersama.

Umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi bagian yang aktif dalam menjaga keharmonisan tersebut. Perbedaan pendapat, organisasi, suku, maupun pilihan sosial jangan sampai melemahkan persaudaraan.

Jangan sampai kita begitu sibuk mencari siapa yang berbeda dengan kita hingga lupa mencari apa yang dapat kita kerjakan bersama.

Kita boleh berbeda dalam banyak hal, tetapi kita memiliki satu kepentingan yang sama: Papua harus damai, masyarakatnya harus maju, anak-anaknya harus mendapatkan pendidikan yang baik, dan generasinya harus memiliki masa depan yang lebih cerah.

Mengabdi untuk Pembangunan Negeri

Peringatan 666 tahun Islam di Tanah Papua juga harus menjadi momentum untuk mengubah semangat keagamaan menjadi semangat pengabdian.

Hari ini umat membutuhkan lebih banyak guru yang mendidik dengan ikhlas, pemuda yang kreatif, pengusaha yang jujur, muballigh yang menyejukkan, pemimpin yang amanah, serta generasi Muslim yang memiliki kompetensi dan mau bekerja bersama membangun daerahnya.

Masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan salat, tetapi juga dapat menjadi pusat pembinaan generasi, pendidikan Al-Qur’an, pemberdayaan ekonomi, kegiatan sosial, serta lahirnya gagasan-gagasan untuk kemajuan masyarakat.

Sebab mencintai agama juga harus diwujudkan dengan mencintai manusia dan memberikan manfaat bagi negeri.

Peringatan 666 tahun ini hendaknya tidak hanya membuat kita bangga karena Islam telah lama berada di Tanah Papua. Lebih dari itu, momentum ini harus membuat kita bertanya:

“Setelah 666 tahun Islam hadir di Tanah Papua, apa yang telah kita berikan untuk Papua?”

Jangan sampai kita hanya mewariskan cerita tentang kebesaran masa lalu, sementara generasi setelah kita masih menunggu karya nyata pada masa sekarang.

Mari menjadikan sejarah sebagai energi untuk bergerak. Dari masjid menuju masyarakat, dari mimbar menuju pengabdian, dari ukhuwah menuju kolaborasi, dan dari keimanan menuju kebermanfaatan.

Karena pada akhirnya, nilai sebuah perjalanan bukan hanya ditentukan oleh berapa lama kita telah hadir, tetapi oleh berapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan.

666 tahun bukan sekadar tentang usia sebuah perjalanan, tetapi tentang tanggung jawab sebuah generasi.

Mari bersama Merajut Toleransi, Memperkokoh Harmoni, dan Mengabdi untuk Pembangunan Negeri.

Semoga Islam terus menjadi cahaya yang menyejukkan di Tanah Papua; menguatkan persaudaraan, menjaga kedamaian, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi seluruh masyarakat.

Islam menebar rahmat, toleransi merawat persaudaraan, harmoni menjaga Papua, dan pengabdian membangun Indonesia.

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x