Oplus_16908288Sorong,katatanahpapua.com — Eksistensi institusional Muhammadiyah di jajaran leher burung Pulau Papua, khususnya di Kabupaten Kaimana, menandai babak baru pada tahun 2013.
Pendirian Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kaimana bukan sekadar perluasan struktur birokrasi organisasi, melainkan sebuah respons terhadap panggilan dakwah kemanusiaan.
Sebelum tahun 2013, simpatisan dan warga Muhammadiyah tersebar secara kultural tanpa adanya koordinasi formal.
Sehingga deklarasi resmi PDM Kaimana pada tahun 2013 tersebut menjadi payung hukum formal untuk menjalankan berbagai gerak amal usaha secara legal dan terstruktur.
Periode awal hingga sekarang kepengurusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kaimana berada di bawah pimpinan Ustadz H. Muhammad Zein Farisa.
Masa awal berdirinya, Muhammadiyah Kaimana berfokus pada penguatan internal dan pengenalan identitas gerakan Muhammadiyah kepada masyarakat multi-etnis Kaimana.
Tantangan awal yang dihadapi meliputi minimnya aset fisik organisasi serta luasnya geografis daerah yang memisahkan wilayah pesisir dan pegunungan.
Konsolidasi dilakukan melalui pendekatan kultural yang menghormati struktur adat delapan suku asli Kaimana (Kuripasai, Miereh, Maerasi, Irarutu, Koiway, Oburau, Madewana, dan Kuri).
Peran Strategis AMCF dan Korps Da’i Muda
Langkah taktis yang diambil oleh Muhammadiyah Kaimana di masa-masa awal adalah menjalin kemitraan internasional melalui Asia Muslim Charity Foundation (AMCF).
Kerja sama ini memfasilitasi pengiriman para da’i muda yang tidak hanya bertugas sebagai imam atau penceramah, tetapi juga sebagai tenaga pendidik dan relawan kemanusiaan di kampung-kampung terpencil pesisir Kaimana.
Pilar Dakwah Muhammadiyah, Pendidikan, dan Sosial
Bentuk kontribusi fisik pertama Muhammadiyah Kaimana di tanah ini diwujudkan melalui sektor sarana ibadah yaitu pembangunan Masjid.
Bekerja sama dengan AMCF, pembangunan infrastruktur dimulai dengan mendirikan Masjid Kompi. Sarana ini dalam perjalanannya dihibahkan dan kini aktif digunakan sebagai pusat ibadah di lingkungan Batalyon Infanteri 764/Lamba Baua Kaimana.
Langkah ini membuktikan bahwa Muhammadiyah memposisikan dirinya sebagai mitra strategis negara dalam menjaga ketahanan sosial.
Selanjutnya, dari ranah pendidikan, sebelum Muhammadiyah Kaimana memproyeksikan pembangunan SD Muhammadiyah 1 Kaimana pada tahun 2025, gerakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK Luqmanul Hakim ‘Aisyiyah telah lebih dulu dirintis oleh organisasi sayap perempuannya, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Kaimana.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai Islam sejak usia dini dan pendidikan dasar yang inklusif mendorong didirikannya ketiga lembaga pendidikan Muhammadiyah ini.
Kini dalam kurun waktu satu dekade lebih ini, Muhammadiyah Kaimana dengan berkolaborasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Papua Barat, sedang memproyeksikan pendirian dan pembangunan SMA Muhammadiyah Maritim Kaimana pada tahun 2026 ini.
Sedangkan dari aspek gerakan sosial, Muhammadiyah Kaimana bersandar pada teologi Al-Ma’un, sebuah prinsip ideologis yang menekankan bahwa kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial.
Di tengah keterbatasan infrastruktur dan tantangan geografis wilayah pesisir Kaimana, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kaimana menerjemahkan konsep ini ke dalam aksi nyata seperti penempatan Korps Da’i Muda untuk pemberantasan buta aksara dan pembinaan keagamaan.
Di samping gerakan tersebut, Muhammadiyah Kaimana pun dalam momen Idul Adha, melakukan penyaluran daging kurban. Distribusi daging diprioritaskan menyasar kantong-kantong pemukiman masyarakat kurang mampu (duafa) di pinggiran distrik kota hingga pulau terluar.
Menyemai benih di tanah yang kaya akan adat dan toleransi seperti Kaimana bukanlah tentang mengubah warna lokal yang sudah ada, melainkan tentang menambahkan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama.
Deklarasi tahun 2013 dan tapak awal perjuangan para perintis PDM Kaimana telah membuktikan bahwa gerak Islam Berkemajuan mampu tumbuh subur ketika ditanam dengan ketulusan dan rasa hormat terhadap kearifan lokal.
Benih yang dulunya kecil itu, kini telah berakar kuat, siap menumbuhkan ranting-ranting amal usaha yang meretas jalan bagi kecerdasan dan kesejahteraan seluruh masyarakat di Kota Senja. (M)


Tidak ada komentar