Sering Dianggap Sembuh Padahal Belum Tuntas: Mimika Kejar Target Bebas Malaria 2030 Lewat Edukasi “Obat Cokelat”

Kata Tanah Papua
14 Jul 2026 10:08
2 menit membaca

Timika,katatanahpapua.com — Perjuangan melawan malaria di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, terus digeber. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Malaria Center Kabupaten Mimika kini gencar turun langsung ke tengah masyarakat demi mengejar target besar yakni eliminasi total malaria pada tahun 2030.

Senjata utama dalam perang ini ternyata bukan sekadar membagikan obat, melainkan meluruskan pemahaman keliru yang selama ini beredar di masyarakat.

Musuh Tersembunyi: Merasa Sembuh Padahal Parasit Masih Bersarang

Kepala UPTD Malaria Center Mimika, Imelda Ohoiledjaan, mengungkapkan tantangan terbesar di lapangan saat ini adalah kebiasaan pasien yang menghentikan pengobatan secara sepihak.

Banyak warga merasa sudah pulih hanya karena gejala klinis seperti demam dan menggigil telah hilang.

“Seseorang dinyatakan sehat dari malaria ketika obatnya habis diminum dan dilanjutkan dengan pemeriksaan darah kembali. Namun, selama ini masyarakat kerap menilai diri mereka sudah sembuh hanya karena gejalanya hilang, padahal obatnya belum habis,” ujar Imelda di Timika, Selasa, 14/7/2026

Imelda menjelaskan bahwa pengobatan yang tidak tuntas menjadi bumerang. Parasit malaria tidak benar-benar bersih dari dalam tubuh dan berpotensi memicu kekambuhan di kemudian hari.

Bahkan, tim medis kerap menemukan kasus unik di mana warga terlihat segar bugar namun hasil tes darahnya menunjukkan hasil positif.

“Ada warga yang tidak memiliki gejala sama sekali, tetapi saat kami periksa ternyata positif malaria. Hal itu bisa terjadi karena parasitnya masih ada di dalam tubuh, salah satunya akibat pengobatan yang tidak tuntas,” jelasnya.

Misi Menuntaskan “Obat Cokelat”Salah satu fokus edukasi UPTD Malaria Center Mimika saat ini adalah disiplin mengonsumsi primaquine, obat malaria yang akrab disapa warga setempat sebagai “obat cokelat”.

Obat ini memegang peran krusial dalam menyembuhkan malaria hingga ke akarnya. Karakteristik pengobatan primaquine meliputi:

Dosis: Wajib diminum satu tablet setiap hari selama 14 hari atau hingga benar-benar habis.

Aturan Khusus: Jika pasien sempat lupa atau terlewat satu hari, obat tidak boleh dibuang. Konsumsi harus tetap dilanjutkan pada hari berikutnya.

Prinsip Utama, “Fokus utamanya bukan soal jumlah hari yang berurutan, melainkan obatnya wajib habis,” tegas Imelda mengutip instruksi dokter.

Skala Perjuangan Mimika dalam Angka

Tantangan yang dihadapi Mimika memang tidak main-main. Berdasarkan data yang dihimpun UPTD Malaria Center Mimika sejak 1 Januari hingga 13 Juli 2026 siang, tercatat: Total Pemeriksaan Darah (Skrining) 693.591 kali, terus selanjutnya Kasus Positif Malaria Terdeteksi 86.747 kasus.

Angka pemeriksaan yang masif ini menunjukkan komitmen luar biasa dari pemerintah daerah dalam melacak dan memutus rantai penularan malaria. Melalui edukasi yang lebih humanis dan langsung menyentuh masyarakat, Mimika optimistis dapat menyapu bersih malaria dan menyambut tahun 2030 dengan status wilayah bebas malaria. (M)

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x