Kompleks Al-Amin, Jejak Muhammadiyah Sorong dan Kontribusi H. Abdul Rauf Abu (Bagian Keenam)

Kata Tanah Papua
20 Jul 2026 22:54
7 menit membaca

Penulis: Muhammad Adnan Firdaus (Mantan Wartawan Majalah Islam SABILI Jakarta dan Harian Umum Fajar Papua Sorong)

KOMPLEKS AL-AMIN: RIWAYATMU DULU, KONDISIMU SAAT INI

Kompleks Al-Amin di Jalan Merpati, Nomor 17 adalah monumen.

Ia, adalah Cagar Budaya Muhammadiyah yang wajib dijaga dan dirawat.

Para perintis adalah orang-orang ikhlas adalah benar.

Namun itu tidak berarti kita lupa sejarah. Dan enggan menuliskan sejarah. Sebagai patok. Dan warisan inspirasi bagi generasi mendatang.

Mereka para perintis adalah orang-orang ikhlas adalah satu hal. Sedangkan menuliskan sejarah mereka sebagai warisan kepada para pelopor, pelangsung dan penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah, itu satu hal lain yang berbeda.

Mengapa demikian?

Sebab, apa yang kita lihat berdiri kokoh bahkan mewah saat ini tidaklah langsung turun dari langit.

Ia bukanlah Candi Roro Jongrang yang dibangun semalam.

Seperti orang main sulap.

Ia adalah hasil ikhtiar bersama Generasi Perintis Assabiqunal Awwalun yang bekerjasama, bekerja keras menghadirkan monumen-monumen ini.

Sejak Tahun 2002, saat akhirnya Penulis kembali ke Sorong.

Setelah 4 Tahun kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta.

Dan hampir 3 tahun bekerja sebagai Reporter Majalah ISLAM SABILI Jakarta.

Plus, kuliah juga di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam (IAI) Al-Aqidah, Jakarta.

Penulis sudah sering mengusulkan.

Agar Sejarah Yayasan Al-Amin dan Para Tokoh dan Perintisnya yang toh juga adalah para Kader Muhammadiyah. Harus mulai dituliskan.

Mumpung para tokoh-tokoh kunci tersebut masih hidup.

Saat itu, bahkan di tahun-tahun sebelum itu.

Penulis melihat, terlalu banyak orang yang berbicara tentang Kiprah Rauf Abu dan Al-Aminnya.

Tapi tidak ada satupun yang mau menuliskan.

STIA AL-AMIN berdiri Tahun 1982

Di Tahun 2002 itu.

Berarti sudah 20 Tahun STIA AL-AMIN eksis.

Sudah ribuan sarjana yang dilahirkan lewat momen wisuda.

Tapi tak sekalipun Buklet tentang Sejarah Yayasan, Perintis Yayasan disusun, dikonsep, ditulis. Lalu dicetak dan dibagikan kepada ratusan wisudawan STIA AL-AMIN setiap tahunnya.

Silakan saja sejarah Jajaran Dekan STIA AL-AMIN dituliskan, juga Rektor Unamin.

Tapi, apa salahnya sejarah yayasan dan perintisnya juga dituliskan dan dihidangkan.

Padahal, sebagai pembanding.

Saat Penulis diwisuda di Sasana Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Kami, Wisudawan Institut Agama Islam Al-Aqidah, Jakarta.

Yang saat itu Rektornya K.H. Irfan Dzidni, notabene juga adalah Ketua MUI DKI Jakarta.

Saat kami diwisuda, seluruh wisudawan, selain menerima ijazah, sertifikat, dan lain-lain.

Panitia Wisuda juga membagikan kepada para wisudayan Buklet Singkat tentang Latar Belakang Institut Agama Islam Al-Aqidah, Jakarta. Tokoh-tokoh di balik layar, yayasannya, juga latar belakang mengapa yayasan dan kampus ini didirikan.

Di dalam hati, kerapkali Penulis membatin: “Kasihan Figur Rauf Abu ini!”

Dalam banyak hal, Rauf Abu kesannya polos apa adanya.

Karna memang Rauf Abu Sosok pekerja keras. Lebih suka berada di belakang layar.

Dalam beberapa kali momentum wisuda. Saat ada momen memberikan kata sambutan.

Rauf Abu kerapkali mendelegasikannya kepada figur lain.

KOMPLEKS AL-AMIN: PAGI SMP, SIANG SMA, MALAM STIA AL-AMIN

Para Perintis Gerakan Dakwah Muhammadiyah Sorong melalui Cover Yayasan AL-AMIN adalah orang-orang cerdas.

Cover Al-Amin dipakai. Dengan hipotesa, untuk daerah baru di Wilayah Kepala Burung Sorong. Di Tahun 1960an, 1970an, bahkan 1980an.

Secara “vulgar” langsung membawa chasing Muhammadiyah di kalangan Muslim Minoritas dan para Kader Inti Kelompok Islam Modernis yang membawa misi tajdid, purifikasi, masih bisa dihitung jari. Tentu adalah strategi yang kurang taktis.

Maka strategi memakai Cover Yayasan Al-Amin adalah strategi yang jitu.

Mereka tidak pernah mengatakan: ” apa boleh buat, tetapi ayo buat apa yang boleh!”

Seperti sejarah merintis Amal Usaha Muhammadiyah di tempat lain di Luar Sorong.

Prinsip efisiensi, optimalisasi aset yang ada dulu sambil terus berjalan dan berprogres.

Juga menjadi fenomena menarik dan heroik saat awal perintisan Cita-Cita Muhammadiyah yang akan terus dikenang!

Dan AL-AMIN, lagi-lagi menjadi laboratorium hidup itu semua.

Yang mengajarkan: ” Man Jadda wa jada!”

“Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan menuai hasil!”

Dengan kerja keras, optimisme dan tentu saja dengan pertolongan Allah SWT.

Wujud kecerdasan para perintis adalah dengan menjadikan Gedung AL-AMIN yang 2 Lantai itu, yang sebagiannya masih berlantai papan.

Satu gedung dipakai sekaligus untuk 3 Amal Usaha Pendidikan: Menengah, Atas dan Perguruan Tinggi.

Bagaimana itu?

Begini.

Pagi hari, Gedung AL-AMIN, dipakai untuk kegiatan belajar mengajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) AL-AMIN.

Siang hari, Selepas Shalat Dhuhur, Gedung AL-AMIN, dipakai untuk kegiatan belajar mengajar Sekolah Menengah Atas (SMA) AL-AMIN.

Dan, di Malam Hari, Selepas Maghrib, Gedung AL-AMIN, dipakai untuk kegiatan belajar mengajar dan perkuliahan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) AL-AMIN Sorong.

Gedung Lantai 2 itu juga menjadi saksi bisu beberapa kali Gelaran Musyawarah Daerah Muhammadiyah (Musyda) Kabupaten Sorong terlaksana di gedung ini, di Tahun-tahun Akhir 1970an dan Awal-Awal Tahun 1980an.

Penulis jadi saksi, saat training-training Ikatan Pelajar Muhammadiyah digelar di Kompleks AL-AMIN.

Yang heboh jadi pembicaraan adalah adanya satu dua orang peserta training yang “kesurupan” saat training dan menangis “histeris” saat pembaiatan.

Nama-nama beken para instruktur saat itu di antaranya adalah: Amiruddin Syam, Arsyad Bedda, Muhammad Ali, Mukhsanati Rauf Gani, Muharuddin Abu, Basri, Mukhlisin, Isnan Anshari Firdaus, Muhammad Rusdan, Ramli Naba, dan lain-lain.

Pernah juga ada kejadian. Dimana seorang instruktur perempuan yang diutus dari Makassar jatuh pingsan karna dihukum peserta lompat dari Lantai 2 Gedung SMA/ SMP AL-AMIN.

Training-training kaderisasi Muhammadiyah, Organisasi Otonom (Ortom), Angkatan Muda Muhammadiyah di Awal-Awal Tahun 1980an sangatlah semarak dan kompak.

Oh, iya.

Cerita heboh lainnya saat training-training Taruna Melati Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di tahun itu adalah cerita adanya peserta yang tidur di Mihrab Imam Masjid AL-AMIN lalu tiba-tiba dirinya dipindahkan entah oleh siapa.

MASJID DAN KOMPLEKS AL-AMIN: MARKAZ DAKWAH DAN KADERISASI

Sementara itu, Masjid AL-AMIN Yang berada di Kompleks AL-AMIN juga menjadi Ikon Dakwah Muhammadiyah sejak dulu.

Pengajian, tabligh akbar, shalat Taraweh berjamaah yang menghadirkan bahkan penceramah jadi Yogyakarta pernah terlaksana di Tahun 1989.

Masjid AL-AMIN dahulu lantai 1, di Akhir Tahun 1990an kemudian direnovasi menjadi 2 Lantai.

Banyak saksi hidup yang bercerita melihat sosok Rauf Abu, selain sebagai pengawas proyek pembangunan.

Beliau tidak segan-segan turun langsung ikut ngecor.

Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sorong sebelum pemekaran.

Terletak di Tempat Wudhu Masjid AL-AMIN saat ini.

Imam Masjid AL-AMIN yang fenomenal waktu itu adalah: H. Ali Arif.

Ayah Kandung dari Yasin Ali Arif yang menggantikan ayahnya setelah sang ayah wafat.

Yasin Ali Arif adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten Sorong yang sukses mencetak anaknya jadi Penghafal Quran.

Di Tahun 2000an, setelah Sorong termekarkan menjadi Kabupaten Sorong dan Kota Sorong.

Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sorong pindah ke Aimas, Dekat Panti Asuhan Darul Aitam.

Di kompleks inilah Rustamadji, yang notabene Alumni STIA AL-AMIN bertangan dingin merintis STKIP Muhammadiyah Sorong.

STKIP Muhammadiyah Kabupaten Sorong beberapa tahun kemudian bertransformasi menjadi: Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong.

Sementara STIA AL-AMIN Sorong, setelah dan sebelum wafatnya Rauf Abu sempat mengalami beberapa kali transformasi (baca: perubahan nama).

Dari STIA AL-AMIN, menjadi Universitas AL-AMIN MUHAMMADIYAH, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH AL-AMIN, Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS)

Hingga saat ini, bertransformasi lagi menjadi: UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SORONG, meski dengan Akronim: UNAMIN. Bukan lagi UMS.

Saat Pemekaran Sorong menjadi Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.

Dan Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sorong pindah ke Aimas.

Rauf Abu, menggalang Warga Muhammadiyah Kota Sorong di Tahun 2000an memindahkan Kantor Muhammadiyah Kota Sorong dari lokasi lama di Tempat Wudhu Masjid AL-AMIN saat ini ke lokasi baru Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Sorong saat ini.

Di Tahun 1990an, saat STIA AL-AMIN pindah ke Jalan Pendidikan.

Dan SMP AL-AMIN pindah ke Kilo Meter 10 Lampu Merah saat ini.

Gedung SMA AL-AMIN dipakai kelas pagi oleh SMA AL-AMIN dan siang harinya dipakai oleh Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Satu (MTS Mutu).

Saat MTS Mutu masih numpang di SMA AL-AMIN, Penulis sempat ngajar Qur’an Hadits dan Sejarah Kebudayaan Islam di MTS Mutu.

Saat itu Kepala Sekolahnya Pak Musliman, lalu berganti ke Ibu Nurfauziati.

Teman guru yang lain adalah Pak Ahmad dan Pak Mungawan yang mengajar Muatan Lokal.

Mungawan kemudian sempat jadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Sorong setelah Hermanto Suaeb.

Dan kini adalah Ketua Pertama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat Daya.

MTS Mutu dirintis oleh Arsyad Bedda, C.S.

Di awal berdiri di Tahun 1980an numpang di SD Muhamnadiyah 1 Remu Utara.

Numpang lagi masuk siang di Gedung SMA AL-AMIN.

Hingga akhirnya di Tahun 2005 MTS Muhammadiyah Satu (MTS Mutu) pindah permanen di Jalan Pendidikan Dekat Masjid Raodhah, Kota Sorong.

(BERSAMBUNG)….

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x