Fakfak Bersatu dalam Peringatan 666 Tahun Islam

Yusuf Muri Salampessy
8 Agu 2026 02:55
News 0 26
4 menit membaca

“Satu Tungku, Tiga Batu”

Fakfak, Papua Barat – Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua kembali menghadirkan pesan kuat tentang persaudaraan antarumat beragama di Kabupaten Fakfak.

Di tengah persiapan pelaksanaan kegiatan tersebut, umat Katolik yang tergabung dalam Tim Pastoral Wilayah (TPW) Fakfak ikut mengambil bagian dengan menyerahkan bantuan sebanyak 500 karton air mineral kepada panitia peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua. Bantuan tersebut berasal dari gotong royong para pastor bersama umat Katolik dari lima paroki di wilayah Fakfak. (RRI.co.id)

Penyerahan bantuan dilakukan oleh perwakilan TPW Fakfak, Josep Goenawan, kepada Ketua Panitia Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua, Drs. H. Wahidin Puarada, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Momentum itu berlangsung dalam suasana akrab dan menjadi gambaran bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling membantu. (RRI.co.id)

Apa yang dilakukan umat Katolik Fakfak ini tentu bukan hanya soal 500 karton air mineral.

Lebih dari itu, bantuan tersebut membawa pesan yang jauh lebih besar, ketika satu saudara merayakan momentum keagamaannya, saudara yang lain ikut hadir memberi dukungan.

Inilah wajah toleransi yang sesungguhnya.

Toleransi tidak selalu harus dibicarakan melalui seminar, forum resmi, maupun pidato panjang. Kadang toleransi justru terlihat dari tindakan sederhana: datang, membantu, memberi, dan ikut memastikan kegiatan saudara yang berbeda keyakinan dapat berlangsung dengan baik.

Josep Goenawan menjelaskan, bantuan tersebut merupakan hasil kebersamaan para pastor dan umat Katolik dari lima paroki di bawah TPW Fakfak. Menurutnya, partisipasi tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan serta persaudaraan antarumat beragama yang telah lama tumbuh di Fakfak. (RRI.co.id)

Semangat tersebut sejalan dengan nilai hidup masyarakat Fakfak yang sejak lama dikenal melalui filosofi Satu Tungku Tiga Batu.

Filosofi itu bukan sekadar ungkapan budaya. Ia menggambarkan kehidupan masyarakat Fakfak yang mampu hidup berdampingan dalam perbedaan agama, adat, dan latar belakang keluarga.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang ditemukan satu keluarga besar di Fakfak memiliki anggota keluarga yang berbeda agama, namun tetap berada dalam satu ikatan persaudaraan.

Karena itu, dukungan umat Katolik terhadap peringatan masuknya Islam di Tanah Papua dapat dibaca sebagai kelanjutan dari nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan lintas generasi.

Momentum ini sekaligus memberi pesan penting bahwa merawat kerukunan tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kita toleran. Toleransi harus hadir dalam tindakan nyata.

Hari ini umat Katolik membantu kegiatan umat Islam. Pada kesempatan lain, umat Islam juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk hadir membantu saudara-saudara Kristen maupun masyarakat lainnya.

Semangat seperti inilah yang harus terus tumbuh di Tanah Papua.

Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua bukan hanya momentum untuk melihat sejarah perjalanan Islam. Ia juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa kehidupan beragama di Papua dapat tumbuh berdampingan dengan semangat persaudaraan.

Terlebih, tema yang diangkat dalam momentum 666 tahun ini adalah:

“Merajut Toleransi, Memperkokoh Harmoni, Mengabdi untuk Pembangunan Negeri.”

Dukungan TPW Fakfak seakan menjadi contoh nyata dari tema tersebut.

Toleransi dirajut melalui kepedulian.
Harmoni diperkokoh melalui kebersamaan.
Dan pembangunan negeri dimulai dari masyarakat yang mampu hidup dalam kedamaian.

Sebab pembangunan tidak hanya berbicara tentang jalan, gedung, jembatan, maupun infrastruktur.

Pembangunan juga membutuhkan kepercayaan, kedamaian, persaudaraan, dan kemampuan untuk bekerja bersama meskipun berbeda keyakinan.

Dalam konteks itulah, 500 karton air mineral memiliki makna yang jauh lebih besar dari nilai materinya.

Ia menjadi simbol bahwa perbedaan tidak harus menghasilkan jarak.

Bahwa keyakinan yang berbeda tidak menghalangi persaudaraan.

Dan bahwa di Fakfak, harmoni tidak hanya menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi terus dipraktikkan oleh masyarakat hingga hari ini.

Semangat Satu Tungku Tiga Batu harus terus menjadi warisan sosial bagi generasi muda Papua. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, kerukunan tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai berbicara tentang toleransi.

Kerukunan dibangun oleh mereka yang bersedia hadir ketika saudaranya membutuhkan.

Dan dari Fakfak, pesan itu kembali disampaikan kepada Tanah Papua:

Berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap bersaudara dalam kemanusiaan.

Merajut Toleransi, Memperkokoh Harmoni, Mengabdi untuk Pembangunan Negeri.

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x