Kompleks Al-Amin, Jejak Muhammadiyah Sorong dan Kontribusi H. Abdul Rauf Abu (Bagian Kedelapan)

Kata Tanah Papua
26 Jul 2026 13:39
8 menit membaca

Penulis: Muhammad Adnan Firdaus (Mantan Wartawan Majalah Islam SABILI Jakarta dan Harian Umum Fajar Papua Sorong)

PASAR, MASJID, SEKOLAH (2)

Di Tahun 1960an Akhir dan tahun-tahun yang terhitung jauh sebelum itu.

Wilayah Kepala Burung Irian Jaya umumnya, Sorong khususnya mulai banyak perantau yang datang mengadu nasib.

Sebagian dari mereka datang dengan niat hijrah sambil ingin berkontribusi dalam Pembangunan Irian Jaya.

Mereka ingin menikmati luasnya bumi Indonesia.

Plus mengamalkan Perintah Allah SWT di dalam al-quran yang memerintahkan manusia sebagai khalifah-Nya bertebaran di muka bumi.

Maka, bagi mereka yang niatnya sekedar merantau saat itu.

Ia akan mendapatkan sekedar pahala merantau.

Sebagaimana Hadits Rasulullah S.A.W. yang berbunyi:

” Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Dan setiap manusia akan mendapatkan ganjaran pahala perbuatan amal sesuai niatnya itu.”

Maka, bagi mereka yang ke Irian Barat dengan niat tidak sekedar merantau melainkan hijrah.

Maka ia ajan mendapat pahala hijrah bahkan pahala Khuruj fi Sabilillah (keluar di Jalan Allah).

Tak terkecuali dari Keluarga Besar Rauf Abu khususnya.

Maros, Bugis Makassar, KKSS, Buton, Sumatera, Jawa juga etnis nusantara lainnya.

Sekali lagi, mereka yang di awal Irian Barat berdatangan kesana bermodalkan Uang Belanda IB.

Banyak di antara mereka yang berlatar belakang pebisnis, pedagang, saudagar (baca:swasta) maupun non swasta dari kalangan Pegawai Negeri Sipil ataupun TNI Polri.

Sebelum akhirnya banyak di antara mereka yang akhirnya memutuskan menetap bahkan wafat di Papua.

Dan kabar baiknya adalah bahwa mayoritas kaum muhajirin ini, setelah tiba dan eksis di perantauan.

Tak dimungkiri, mereka bahu membahu di perantauan dengan semangat gotong royong dan pemberdayaan memajukan Irian Jaya dari isolasi juga keterbelakangan terutama mereka yang tinggal di pelosok.

Lewat alih tehnologi, ataupun transfer skill dan knowledge.

Dengan satu semboyan:

” Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung!”

GAHARU JADI KAYU BAKAR, ARWANA DIMAKAN

Saat kecil di Sorong, penulis mendengar cerita-cerita menarik dari orang tua-tua yang sudah duluan berada di Sorong Irian Jaya dan sudah sampai ke pedalaman dan hutan Irian Jaya saat itu.

Tentang cerita fenomenal kayanya Sumber Daya Alam Irian Jaya yang masih perawan, asri dan alami.

Penulis mendengar cerita dari sesepuh yang pernah menembus hutan dan pedalaman.

Bahwa sebagian Penduduk Irian Jaya yang polos saat itu bahkan menjadikan ikan arwana spesies aquarium yang mahal itu sebagai santapan.

Sebagaimana hal itu juga terjadi pada kayu gaharu wangi yang berharga mahal namun penduduk setempat tidak mengetahui lalu dijadikan kayu bakar.

Nah, kontribusi para pendatanglah yang membuat penduduk pribumi akhirnya punya skil dan pengetahuan baru dalam baru dalam banyak hal.

Termasuk terkait nilai jual komiditas yang mereka miliki seperti Ikan Arwana dan Kayu Gaharu.

Lanjut ke cerita: Pasar, Masjid, Sekolah.

Dalam momentum terus bertambahnya jumlah perantau, pendatang muslim KKSS dan Nusantara umumnya.

Dalam momentum inilah mulailah sangat terasa, wabil khusus bagi putra-putri simpatisan dan kader Muhammadiyah untuk merintis sekolah.

Apalagi, Pergerakan Muhammadiyah yang dirintis K.H. Ahmad Dahlan dari Kampung Kauman, Jogjakarta.

Selain misi tauhid, tajdid, filantropi.

Juga adalah Gerakan Pendidikan Islam yang menolak sekularisasi pendidikan ala Belanda.

Yang ditengarai berusaha memisahkan agama dari kehidupan.

Siswa yang belajar agama di madrasah dan pesantren minim pembelajaran umum.

Sementara siswa yang belajar di sekolah umum, sangat minim untuk tidak mengatakan nihil sama sekali pembelajaran agama.

Dan kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh Indonesia sejak pra kemerdekaan bahkan pasca proklamasi kemerdekaan, termasuk di Irian Jaya (baca: Papua).

Bahkan kondisi yang dihadapi Rauf Abu, E.A. Pulu Kadang, La Hasan Muhidin dan kolega lebih berat karna sekolah-sekolah yang ada di Tahun 1960an, 1970an dengan fasilitas layak barulah sekolah-sekolah pemerintah.

Itu sebabnya, dalam rintisan awal, di Akhir Tahun 1960an dan Awal 1970an, di Sorong baru ada Masjid Al-Falah Kampung baru sebagai masjid tertua dan pertama, juga Masjid Al-Amin.

Pendidikan agama dan keagamaan secara non formal di masjid dan mushalla yang sudah ada di Sorong seperti Masjid Al-Falah dan AL-AMIN dalam bentuk pengajian, ceramah dan khutbah Jum’at sudah ada.

Namun Sekolah Dasar/ Madrasah Formal Islam saat itu belum ada.

Demikian pula mushalla yang terletak di Pasar Remu Pertama, sudah ada.

Dan sudah ada kegiatan dakwah dan pengajian kecil-kecilan sebagai Pendidikan Agama Islam non formal.

Hal di atas, anasirnya bisa ditelisik sebagaimana keterangan Nurdin Nais di Podcast Masjid Raya Al-Akbar Sorong.

Jadi.

Komunitas pasar sudah ada.

Masjid mushalla sudah ada.

Tokoh-tokoh penggerak dan perintis sudah ada.

Dan komunitas perantau di Irian Jaya sedikit demi sedikit terus bertambah.

Baik karna DNA Suka Merantau.

Ataupun tertarik ikut keluarga karna cerita sukses di perantaun.

Bahkan di Tahun 1960an dan Awal 1970an itu, Rauf Abu, juga tokoh-tokoh Muhajirin dari Luar Irian Barat akhirnya mulai mengajak anggota keluarganya.

Baik dari kalangan swasta wiraswasta, TNI Polri/ non TNI Polri, PNS non PNS untuk ikut menyusul merantau ke Sorong Irian Jaya.

Ada yang datang karna tugas negara.

Ada yang karna DNA Perantau dan Discovery.

Karna Bugis Makassar yang notabene pelaut itu bahkan berdiaspora hingga ke Malaysia dan Singapura.

Sekedar menguatkan kesimpulan di atas.

Tahun 2019 Penulis pernah Studi Tour ke Malaysia, Thailand, Singapura.

Dan saat di Singapura menemukan lokasi bahkan menginap di kompleks yang bernama: Bugis Street.

Lanjut ke cerita imigrasi suku nusantara ke Irian Jaya saat itu.

Orang tua Penulis, Firdaus Abu di Akhir 1970an juga mulai ikut Kakaknya Rauf Abu ke Sorong.

Demikian pula anggota inti keluarga besar Rauf Abu khususnya, Bugis Maros KKSS umumnya, plus dari kelompok nusantara lainnya

H.Rauf Gani, Dahlan Abu, H. Puji Toko Rahayu, H. Abdul Rahim Bora Toko Nurwahidah, H. Rowa, H. Bollo, H. Hamis, H. Najmuddin, H. Bado, H. Hasyim Tudju, dan lain-lain.

Nama-nama ini yang penulis ingat. Dan mohon maaf jika ada yang terlewatkan.

Setelah di Sorong Irian Jaya.

Mereka berbisnis.

Membantu pemerintah membuka akses daerah, juga tentu saja melakukan transfer of knowledge dan pemberdayaan bagi Penduduk Asli Irian Jaya, Papua dan Papua Barat Daya saat ini.

Mereka juga kawin mawin di Perantauan Sorong.

Ataupun yang saat melakukan imigrasi ke Sorong juga menyertakan anak cucu mereka yang sudah masuk fase wajib belajar, terutama sekolah dasar.

Disinilah urgensi mendirikan sekolah dasar itu terasa.

Yayasan Al-Amin sudah dirintis.

Masjid Al-Amin sudah mulai dibangun.

Komunitas pasar, masjid dan nusantara mulai berkembang.

Sorong yang beribu kota pertama di Pulau Doom itu mulai ramai.

Disinilah urgensi mendirikan madrasah atau sekolah dasar dengan mata pelajaran agama memadai sangat dibutuhkan.

Meskipun karna segalanya masih sangat terbatas.

Opsi menumpang sementara di sekolah pemerintah yang sudah lebih memadai fasilitasnya mesti dilakukan.

Namun setidaknya, solusi untuk merintis SD Muhammadiyah Remu harus segera dimulai. Dan tak boleh ditunda lagi.

TAHUN 1969 SD MUHAMMADIYAH REMU DIRINTIS

Ya, Tahun 1969 adalah tahun resmi mulai berdirinya SD Muhammadiyah Remu.

Kesimpulan itu didapatkan dari keterangan yang diberikan Ketua Aisyiah Kota Sorong, Mukhsanati Rauf Gani kepada Penulis, Sabtu (25/07/2026).

Mukhsanati Rauf Gani, notabene adalah Alumni Pertama SD Muhammadiyah Remu saat masih menumpang di SD Negeri Sorong yang beralamat di Jalan Rumberfon, Remu.

Kini Remu Selatan, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Belakangan, SD Negeri di Sorong berkembang seiring bertambahnya sekolah negeri milik pemerintah.

Di Era Pemerintahan Orde Baru Soeharto, dikenal program Sekolah Intruksi Presiden. Familiar disebut Sekolah Inpres.

Lalu seterusnya, Sekolah Dasar Negeri Sorong yang jadi tempat SD Muhammadiyah Remu numpang sementara ini juga ganti sebutan menjadi: SD Inpres Negeri 2 Remu Selatan Sorong, hingga saat ini.

SD Muhammadiyah Remu Sorong menamatkan alumni pertamanya dengan Mukhsanati salah satunya, di Tahun 1975.

Maka jika Pendidikan Sekolah Dasar ditempuh 6 tahun.

Kesimpulan Tahun 1969 sebagai Tahun Berdirinya SD Muhammadiyah Remu yang saat ini bernama SD Muhammadiyah 1 Remu, sangatlah simpel.

Bagaimana itu?

Ya, kita tinggal mengurangi angka Tahun Kelulusan Pertama yaitu Tahun 1975 dengan 6.

Dan didapatkanlah angka 1969.

Logis dan masuk akal kan!

Lebih lanjut, untuk menguatkan informasinya, Mukhsanati tanpa ragu menyebutkan beberapa nama kolega sesama Alumni SD Muhammadiyah Remu Pertama Edisi Masih Numpang di SD Negeri Sorong, diantaranya: H. Shamad Puji Toko Rahayu, Muhammad Naba dan Abidin Bado.

Abidin Bado adalah Pensiunan Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Sorong sekaligus saat ini adalah Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Anak Maros Indonesia (Pa’mai).

Sementara Mukhsanati Rauf Gani juga adalah Pensiunan Pegawai Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Sorong.

SEKOLAH SIANG DAN NUMPANG UJIAN DI SD INPRES NEGERI 2

Mukhsanati mengirimkan kepada Penulis Foto Ijazah Asli SDnya.

Banyak informasi dan temuan menarik dari Dokumen Ijazah SD yang diterbitkan di Sorong, Tanggal 15 November 1975 tersebut.

Ijazah Asli Berlatar Hijau Muda dan Putih ini Ditandatangani oleh Kepala Sekolah Atas Nama W.A. SANUSI BA dengan NIP 130213434 dengan stempel tertulis:

SEKOLAH DASAR NEGERI SORONG.

SD MUHAMMADIYAH REMU SORONG 3 KALI GANTI NAMA DAN KEPALA SEKOLAH PERTAMA ADALAH LA HASAN MUHIDDIN

Sementara itu, informasi menarik lainnya diberikan kepada Penulis oleh Lukman Firdaus.

Lukman Firdaus yang lulus hanya setahun setelah lulusnya Mukhsanati menegaskan senada dengan informasi dari Mukhsanati bahwa La Hasan Muhiddin adalah Kepala Sekolah Pertama.

Meski di saat Mukhsanati lulus di Tahun 1975 Ijazah Surat Tamat Belajar (STTB) masih ditandatangani oleh Kepala Sekolah SD Negeri Sorong (kini SD Inpres Negeri 02 Remu Selatan Sorong).

Dan nama sekolah saat itu adalah SD Muhammadiyah Remu.

Maka sejak dirinya, Lukman Firdaus tamat setahun sesudahnya.

Surat Tanda Tamat Belajar Sekolah Dasar (SD) dirinya yang lulus di Tahun 1976 itu sudah ditandatangani Kepala Sekolah La Hasan Muhiddin dengan NIP 150102080

Dan di Surat Tanda Tamat Belajar yang diterima Lukman Tahun 1976.

Nama SD Muhammadiyah Remu sudah berganti nama menjadi:

SD Muhamnadiyah/ Yapis Remu.

(BERSAMBUNG)……

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x