
Penulis: Muhammad Adnan Firdaus (Mantan Wartawan Majalah Islam SABILI Jakarta dan Harian Umum Fajar Papua Sorong).
MADRASAH AL-AMIN ADALAH MADRASAH MUHAMMADIYAH
H. Abdul Rauf Abu di Tahun 1960an, 1970an, 1980an, 1990an, hingga wafat Tahun 2004.
Dalam mengemban Misi Dakwah Islam, Dakwah Muhammadiyah memulainya dari keluarga terdekat.
Madrasah Al-Amin dalam banyak hal, di awal-awal Tahun 1970an mungkin belumlah Gerakan Struktural Berjenjang secara Hirarkikal dalam Pola Ranting Cabang Muhammadiyah.

Namun hasil Dakwah Kultural Muhammadiyah melaui Bendera Yayasan Al-Amin cukup berhasil menjadi magnet untuk mendatangkan Kader-Kader dan Simpatisan Baru Muhammadiyah. Banyak di antara Keluarga Rauf Abu yang sebelum hijrah ke Sorong juga Anggota Nahdhiyin.
Adik Bungsu Rauf Abu, Firdaus Abu yang dulu bernama Abdul Salam.Saat di Makassar di Tahun-Tahun Akhir 1960an bahkan adalah Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Layang Paralayang, Sibula Tinumbu.
Faktor Rauf Abulah yang menjadi faktor dominan yang membuat adik-adiknya, anak istri, menantu dan ponakannya akhirnya jadi simpatisan Muhammadiyah hingga akhirnya menjadi Aktivis Muhammadiyah.
Firdaus Abu menceritakan bahwa sebelum mengikuti jejak kakak kandungnya Rauf Abu hijrah ke Sorong, dirinya adalah Kader Nahdhiyin yang “keras” kepada Pola Dakwah Muhammadiyah.
Namun, setelah sampai di Sorong di Akhir Tahun 1960an dan mulai ikut menetap di Sorong bersama keluarga di Tahun 1970an. Dirinya pun mulai diajak sang kakak aktif di kegiatan Muhammadiyah.
Di Tahun sejak 1970an, Muhammadiyah di pusat dan di seluruh daerah memiliki komunitas yang disebut ISBM (Ikatan Seniman Budayawan Muhammadiyah).
Yang waktu itu di Sorong kerapkali melakukan pentas drama. Dari situlah kemudian Firdaus Abu muda tertarik dan pelan-pelan terlibatkan dalam kegiatan Muhammadiyah.
Firdaus Abu, setelah akhirnya jadi kader dan simpatisan Muhammadiyah. Di Tahun 1980an pernah menjadi Ketua Majelis Pembina Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).
Selain menjadi Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Remu Utara bersama Tajuddin sebagai Sekretaris dan H. Sukri sebagai bendahara. Bersama-sama eksponen Muhammadiyah lain seperti Imam Marzuki, Nur Kahar dan Rasyid Marjan.
Rasyid Marjan kemudian bersama teman-temannya merintis Ranting Muhammadiyah HBM. Lalu bersama kaum Muslimin mendirikan Masjid Al-Munawwarah, HBM, Jalan Sriti.
Imam Marzuki, Nur Kahar, H. Syukri adalah Eksponen Muhammadiyah yang bersama kaum muslimin merintis Masjid Darussalam Kampung Pisang Sorong.
Di mana secara kultural pengajian ranting Muhammadiyah saat itu mulai semarak. Dan salah satu syarat berdirinya Ranting Cabang saat itu adalah adanya masjid. Maka dirintislah saat itu pendirian Masjid Darussalam, Kampung Pisang.
RAUF GANI WAKAFKAN TANAH UNTUK SMP AL-AMIN MUHAMMADIYAH
Adapun dari kalangan Ipar Rauf Abu, sokongan yang cukup menonjol adalah dari Rauf Gani, Ipar Rauf Abu.Selain sama-sama pernah merintis CV. Cahaya Rahmat.
Rauf Gani, yang merupakan suami dari Haderiah Abu, Adik Perempuan Rauf Abu. Di Tahun 1990an. Bersama H. Terru sepupunya. Mewakafkan tanah yang cukup luas di Simpang Kilo Meter 10 Kota Sorong untuk Pendirian Lokasi Baru SMP Al-Amin Muhammadiyah. Dan belakangan, dengan kepoloporan Karsiman. Di Bagian Belakang Tanah Wakaf ini didirikan SD Muhammadiyah 2 dengan Kepala Sekolah Pertama Winarno.
Kembali ke cerita ke daftar Anggota Keluarga Rauf Abu yang berhasil beliau pengaruhi dan rekrut menjadi Simpatisan Muhammadiyah lalu akhirnya menjadi Eksponen Muhammadiyah adalah Anak Mantu Rauf Abu yaitu, Abdul Majid Mustamin.
Camat Pertama Dom Sorong, Alumni Akademi Pemerintahan Negara (APDN) ini mempersunting Putri Rauf Abu, yaitu Salma Rauf Abu. Dan tercatat pernah menjadi Dekan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Al-Amin Sorong, Cikal Bakal Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin).
Abdul Majid Mustamin juga pernah menjadi Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Kota Sorong. Pula sempat menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Sorong.
Di kalangan menantu yang berhasil direkrut Rauf Abu jadi simpatisan hingga akhirnya jadi Eksponen Muhammadiyah Sorong adalah Rahman Kanna. Suami dari Putri Sulung Rauf Abu, Ruwaedah Rauf Abu.
Gerakan Kultural Muhammadiyah, baik berupa pengajian Cabang dan Ranting di Tahun 1980an, sangatlah marak.
Pengajian Cabang dan Ranting Muhamnadiyah dilakukan dari rumah ke rumah Warga Muhammadiyah Kota Sorong. Terutama sekali di Rumah Pertama Rauf Abu di Jalan Jendral Ahmad Yani.
Rumah Rauf Abu di Jalan Jendral Ahmad Yani ini adalah Rumah Pertama Rauf Abu di Sorong yang juga memiliki gudang barang di bagian belakang dan di lantai 2.Rumah ini, di Tahun 1980an sangat sering dipakai sebagai tempat Pengajian Muhammadiyah.
Rumah ini kemudian dihibahkan Rauf Abu ke Putri Sulungnya Ruwaedah Rauf yang merupakan Istri Rahman Kanna.Setelah di Tahun 1980an Akhir Rauf Abu membangun Toko Rahmat dan Gudangnya dengan desain yang lebih modern dan representatif.
Setelah aktif di Muhammadiyah. Rahman Kanna tercatat pernah menjadi Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Bendahara dan Ketua BP3 SD Yapis Muhammadiyah Remu Utara.
RAUF ABU HOBI BANGUN MASJID
Saat Rauf Abu tinggal di rumah pertama di Jalan Jendral Sudirman inilah beliau kemudian menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Raya Al-Akbar Sorong dengan desain yang lebih modern.
Waktu itu Bupati Sorong adalah Sutadji yang seorang Kolonel Tentara.
Dan lokasi Pembangunan Masjid Raya Al-Akbar Sorong saat itu adalah lokasi perkebunan.
Imam Masjid Agung/ Masjid Raya Al-Akbar Pertama saat itu adalah Imam H. Abu Naim Alumni Mangkoso yang masih bersepupu dengan Ibunda Penulis H. Nurida Haya.
Saat telah pindah ke Rumah Toko (Ruko) Toko Rahmat yang baru di Jalan Basuki Rahmat yang berbatasan langsung dengan Komando Resort (Korest) Polisi Sorong.
Rauf Abu kembali menjadi Ketua Pertama Pembangunan Masjid Al-Ashar Korest/ Polres Sorong.
Di Akhir Tahun 1980an, Rauf Abu juga membangunkan sebuah masjid untuk Pesantren Darul Istiqamah Klamono Sorong.
Pesantren ini adalah Pesantren Cabang dari Pesantren Darul Istiqamah Pusat.Yang di awal perintisan pembangunannya.
Untuk Pembebasan Tanah Wakaf Lokasi Pesantren di Jalan Klamono banyak melibatkan Warga Muhammadiyah Sorong untuk pembebasan Tanah Wakafnya.
Tak tanggung-tanggung, luas tanah yang merupakan tanah adat ini adalah seluas 50 Hektar.
Warga Muhammadiyah Sorong berpatungan melakukan wakaf pembebasan Lahan Pesantren Darul Istiqamah Sorong Klamono dari nominal terkecil saat itu, Rp. 500.000,-
Meski Pewaqif Terbesarnya adalah Keluarga Besar Toko Rahayu Sorong.
MENGIRIM SANTRI KE DARUL ARQAM GOMBARA SULAWESI SELATAN
Di Akhir Tahun 1970an, Rauf Abu tercatat mulai mengirim santri dari Sorong untuk nyantri di Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara Sulawesi Selatan yang berdiri Tahun 1971 dan dirintis oleh K.H. Abdul Djabbar Ashiri.
K.H. Abdul Djabbar Ashiri tercatat pernah jadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.
Adapun santri pertama dari Sorong Muslim Papua Asli yang pernah dikirim H. Abdul Rauf nyantri di Gombara adalah Walid Kalabai. Wahid Kalabai adalah Warga Kalobo Raja Ampat.
Di Tahun 1987 ke atas. Rauf Abu tercatat mensponsori beberapa cucu dan keponakannya untuk nyantri di Darul Arqam Gombara Sulawesi Selatan.
…..(BERSAMBUNG)





Tidak ada komentar