Sekolah Hijau di Kota Injil: Tindakan Lokal dengan Wawasan Global

Kata Tanah Papua
19 Jul 2026 13:54
4 menit membaca


Ismail Suardi Wekke
(Redaktur Senior Kata Tanah Papua)

Manokwari,katatanahpapua.com — Dari balik dinding kaca ruang kelas SMA Muhammadiyah Conservation Manokwari (SMAMCO), riak Selat Dombo terdengar samar, beradu dengan gemerisik
dedaunan pohon matoa yang sengaja dibiarkan tumbuh besar di halaman sekolah.

Di sebuah wilayah suburban Manokwari, Papua Barat, kota yang lekat dengan sejarah teologis
Kekristenan sejak pertengahan abad ke-19—sebuah eksperimen pendidikan sedang
berlangsung.

Sekolah ini tidak hanya mengajarkan rumus fisika atau sejarah peradaban,
melainkan bagaimana merawat bumi yang kian renta.

SMAMCO menjadi buah bibir bukan sekadar karena ia mengusung nama besar organisasi Islam modernis di daerah minoritas.

Daya pikatnya terletak pada satu kata di tengah akronimnya: Conservation. Di tanah Papua, di mana eksploitasi hutan dan perubahan bentang alam menjadi isu krusial sehari-hari, sekolah ini memilih jalan sunyi untuk bertarung lewat kurikulum hijau berbasis komunitas.

Gaya arsitektur sekolah ini langsung mencerminkan ideologinya. Tak ada dominasi semen kaku atau konsep bangunan masif yang merusak kontur tanah.

Memasuki kawasan SMAMCO,
sejauh mata memandang adalah sistem pengelolaan air hujan terintegrasi dan deretan panel surya mini yang menyuplai daya ke laboratorium komputer mereka.

Kurikulum yang Membumi

Langkah SMAMCO memosisikan diri sebagai pionir sekolah berwawasan lingkungan di Papua Barat didasari atas kegelisahan lokal.

Di saat kurikulum nasional kerap kali terasa berjarak dengan realitas daerah, sekolah ini justru membawa isu ekologi ke dalam ruang kelas.

Di sini, setiap siswa diwajibkan memiliki “proyek adopsi pohon”. Sejak hari pertama
menginjakkan kaki sebagai siswa baru hingga kelulusan nanti, mereka bertanggung jawab penuh atas tumbuh kembang satu bibit pohon endemik Papua—mulai dari kayu besi hingga jenis-jenis anggrek asli Pegunungan Arfak.

Ujian akhir mereka pun tak melulu di atas kertas; merawat ekosistem lokal dan mempresentasikan dampaknya bagi lingkungan adalah syarat mutlak kelulusan.


“Kami ingin anak-anak ini tidak asing dengan tanahnya sendiri,” ujar salah seorang tenaga pengajar SMAMCO saat ditemui Tempo di sela-sela aktivitas laboratorium alam sekolah, pertengahan Juli 2026.

“Ketika mereka belajar biologi, mereka langsung menyentuh tanah, menghitung kadar asam, dan paham mengapa menjaga hutan adat itu adalah bagian dari
iman.”


Integrasi sains dan kesadaran lingkungan ini bukan tanpa hasil. SMAMCO perlahan
bertransformasi menjadi pusat pembibitan lokal yang sering kali menyuplai kebutuhan
penghijauan untuk distrik-distrik sekitar di Manokwari.

Merajut Harmoni di Antara Dedaunan

Sebagaimana potret amal usaha Muhammadiyah lainnya di tanah Papua, SMAMCO adalah miniatur inklusivitas. Lebih dari separuh siswanya merupakan anak-anak asli Papua yang beragama Kristen.

Di bawah rindangnya atap sekolah hijau ini, identitas keagamaan melebur
dalam visi yang sama: menjaga “Rumah Bersama” bernama Bumi Cenderawasih.

Prinsip teologi lingkungan yang diajarkan di sekolah ini dimodifikasi sedemikian rupa agar bersifat universal. Nilai-nilai menjaga alam dalam Islam yang bersumber dari konsep khalifah fil ardh bersanding selaras dengan kearifan lokal masyarakat adat Papua mengenai pentingnya
menjaga hutan sebagai mama yang memberi kehidupan.


“Di sekolah lama, saya hanya belajar teori tentang global warming,” tutur Albert, siswa kelas XI yang berasal dari wilayah pesisir Manokwari.

“Di SMAMCO, kami diajari membuat kompos dari limbah kantin dan menanam bakau di pesisir. Kami berbeda suku dan agama, tapi kalau urusan sampah plastik dan hutan yang gundul, kami semua punya tanggung jawab yang sama.”

Model pendekatan praktis inilah yang membuat SMAMCO cepat diterima oleh para kepala suku dan tokoh masyarakat adat di Manokwari. Kehadiran sekolah ini tidak lagi dicurigai sebagai agen konfrontasi ideologis keagamaan, melainkan mitra strategis dalam menyelamatkan masa depan ekologi anak cucu mereka.


Menantang Arus Zaman


Tentu saja, mempertahankan konsep sekolah konservasi di tengah keterbatasan fasilitas di Indonesia Timur bukanlah perkara mudah. Merawat laboratorium alam, mengelola sistem pengolahan limbah mandiri, hingga mempertahankan guru-guru spesialis lingkungan membutuhkan konsistensi dan pendanaan yang tidak sedikit.

Namun, SMAMCO menolak untuk
tunduk pada keterbatasan.
Melalui kemitraan strategis dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan
dan jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah, sekolah ini terus menyiasati tantangan
operasional.

Bagi mereka, SMAMCO adalah proyek masa depan. Ketika senja mulai turun menjemput Manokwari dan semburat merah merona di langit Teluk
Doreri, beberapa siswa masih terlihat sibuk menyiram bedengan pembibitan di sudut halaman
sekolah.

Di kota yang dijaga oleh ingatan iman para penginjil masa lalu, SMAMCO sedang
menuliskan babak barunya sendiri: sebuah cerita tentang anak-anak muda yang belajar bersujud dan menjaga bumi, di bawah naungan kibaran bendera hijau konservasi.

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x