Kompleks Al-Amin, Jejak Muhammadiyah Sorong dan Kontribusi H. Abdul Rauf Abu (Bagian Kelima)

Kata Tanah Papua
19 Jul 2026 06:48
6 menit membaca

Penulis: Muhammad Adnan Firdaus (Mantan Wartawan Majalah Islam SABILI Jakarta dan Harian Umum Fajar Papua Sorong).

RAUF ABU dan PERAN SAUDAGAR PERANTAU BUGIS MAKASSAR DI PAPUA

Sosok Rauf Abu yang diperkirakan sudah berada di Sorong Irian Barat-Ibu Kota Provinsi Papua Barat Daya saat ini- Awal 1960an.

Adalah satu dari sekian banyak sosok Saudagar Bugis Makassar yang sejak lebih setengah abad lalu sudah menginjakkan kaki di Irian Barat.

Kisah sukses Rauf Abu dengan Monumen Al-Amin dan Muhammadiyah Sorongnya.

Hanya satu, dari sekian banyak kisah sukses Saudagar Bugis Makassar di Papua.

Di Merauke sendiri.

Rauf Abu punya ipar namanya H. Salama yang juga sukses merintis bisnis di Merauke.

Istri dari H. Salama adalah H. Fatimah Abu, notabene Adik Perempuan Rauf Abu.

Anak H. Salama dan H. Fatimah Abu ada juga yang sukses jadi Anggota Legislatif Daerah.

Bahkan cucu mereka berdua, Khairil Anwar sempat menjadi Bupati Pemekaran Kabupaten Boven Digul.

Tidak semua dari mereka langsung sukses seperti kondisi mereka saat ini.

Penulis mendengar cerita, sosok seperti H. Abdul Rahim, akrab dipanggil Haji Bora.

Pertama kali menginjakkan kaki di Sorong Irian Barat, hanyalah pedagang asongan di Pelabuhan Sorong.

H. Abdul Rahim, yang masih bersepupu satu kali dengan H. Abdul Rauf Abu. Puluhan tahun setelah merintis asa di Sorong Irian Barat. Sejak Tahun 1980an juga sukses merintis jaringan apotik dan toko obat.

Toko Obat dan Apotik Nurwahidah, juga Nur Ilham adalah jaringan bisnis farmasi warisan H. Abdul Rahim yang masih eksis hingga saat ini.

H. Abdul Rahim, H. Puji Toko Rahayu, H. Nagga Palaguna, H. Asri, Toko Alam, H. Hamid Bengkel Ikhlas Jaya dan lain-lain Kumpulan Saudagar Bugis Makassar Pasar Sentral bahu membahu mendirikan Masjid Quba Sorong.

Anak Mantu H. Abdul Rahim, H. Muslimin Zainuddin, saat menjadi Anggota DPRD Provinsi.

Sukses melanjutkan Kiprah Yayasan Quba dengan menjaga eksistensi SD/ SMP Quba yang saat ini berdiri megah dengan gedung bertingkat yang kokoh.

H. Abdul Rahim, H. Rowa, H. Nagga dan keluarga besarnya yang masih kerabat dekat Rauf Abu. Meskipun corak Islam mereka lebih tradisionalis.

Namun karna ada hubungan kekerabatan di antara mereka Saudagar Bugis Makassar umumnya, Maros Pasandan Cinranai khususnya.

Tak kerap, walau Rauf Abu tetap yang berdiri sebagai garda terdepan. Namun dalam beberapa momentum gerakan filantropi Islam Berkemajuan.

Rauf Abu tetap mengajak terlibat sepupu-sepupunya, sepupi dua kalinya, ring 1 keluarganya, juga Saudagar Bugis Maros Makassar KKSS yang eksis saat itu.

Tangan kanan Rauf Abu sebagai amil untuk mengumpulkan donasi dari Ring 1 Muzakki dari keluarga adalah Nurdin Nais.

Nurdin Nais sejak 1960an juga sudah berada di Irian Barat. Dan dirinya sudah tercatat sebagai Anggota Kokam saat tiba di Fak-Fak. Dan pernah sama-sama terlibat dalam kegiatan Kokam Pemuda Muhammadiyah Fak-Fak dengan Ya’kub Musaad.

Ya’kub Musaad adalah Kakak Kandung dari Muhammad Musa’ad, Pejabat Pertama Gubernur Papua Barat Daya setelah mekar dari Provinsi Papua Barat.

KELUARGA RAUF ABU: PELAKU EKONOMI LINTAS PROFESI

Di Awal Tahun 1970an, hingga saat ini. Keluarga Besar Rauf Abu yang eksis di dunia wirausaha terdiri dari lintas profesi dan bidang usaha, mulai dari Pengusaha Telur, Sembako, Meubel, Sepeda, Usaha Hasil Laut hingga jasa konstruksi.

Pengusaha Telur, ada nama H. Satas di K.M. 14 Kebun Durian Sorong yang akhirnya ikut juga merintis Masjid Baiturrahim dekat rumah tinggalnya.

Pengusaha Sembako, ada H. Rate dengan Toko Cahaya Hasrat yang di Tahun 1970an, Awal 1980an sangat fenomenal bersaing dengan Toko Sinar Harapan.

Selain ada H. Najamuddin dan Toko Alam meskipun sudah family jauh. Namun masih serumpun Warga Maros dan KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan).

H. Najamuddin yang setelah kebakaran Pasar Remu Pertama akhirnya menetap di Kompleks Kapling. Bersama warga sekitar juga merintis Yayasan Al-Azhar, T.K. Al-Azhar dan Masjid Al-Azhar.

MERINTIS HIKMAS

Untuk jadi wadah silaturrahim. Selain di Muhammadiyah lewat Yayasan Al-Amin.

Rauf Abu juga mendorong dirintisnya HIKMAS (Himpunan Keluarga Maros).

Rayon Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang menghimpun dan jadi Wadah Silaturrahim Warga Maros di perantauan.

Apalagi, Perantau KKSS Asal Maros di Sorong. Sejak dulu, hingga saat ini. Adalah Perantau KKSS di Sorong dengan jumlah warga terbanyak.

Di Awal Perintisan Hikmas, penulis jadi saksi, bagaimana H. Rauf Gani dan Ayah Penulis H. Firdaus Abu berdiskusi tentang Desain Logo Hikmas.

Saat itu Penulis Masih di Sekolah Dasar.

HIKMAS, di era 1980an sudah sangat aktif melalui kegiatan pengajian, arisan, silaturrahim, dan lain-lain.

Bahkan di tahun itu, sepertinya hanya HIKMAS yang memiliki Mobil Ambulance.

Seiring berjalan waktu, di Tahun 2000an, entah karna apa. HIKMAS kemudian tergantikan eksistensinya dengan: PA’MAI (Perkumpulan Anak Maros Indonesia).

Meskipun kabar baiknya, sejak PA’MAI muncul, yang jadi nahkoda adalah Muhammad Rizal Rahman, notabene adalah Cucu Tertua Laki-Laki Rauf Abu.

KAPAL MOTOR INTAN RAYA

Di Tahun 1960an –bahkan hingga saat tulisan ini dibuat– Sorong Irian Barat saat itu, adalah The Sleeping Giant, Raksasa Tidur yang terisolir.

Irian Barat, Papua saat ini, adalah daerah dengan luas daratan, laut yang luas pulau dan kepulauan yang terisolir.

Sementara, jika dibandingkan Luar Papua, seperti Jawa, Penduduk Papua cukup minimalis.

Medan darat yang berat, dan pulau-pulau terisolir itu harus ditembus dengan armada laut yang memadai.

Penduduk di pesisir dan pulau-pulau di Papua harus dipenuhi kebutuhannya. Dan selalu ada peluang bagi pihak swasta berkiprah di sisi ini. Karna pemerintah kerapkali punya keterbatasan.

Kepeloporan pihak swasta untuk masuk hingga ke pelosok Papua, sangat membantu kemajuan daerah-daerah yang berhasil dibuka aksesnya.

Pengalaman Penulis melakukan perjalanan ke Kokoda Taruf Migori Inanwatan. Selalu saja berjumpa dengan Warga KKSS. Meskipun mereka hanya membuka kios, toko kelontong ataupun membuat bagang. Namun itu sangat membantu pemerintah daerah dan warga sekitar.

Demikian pula saat Penulis beberapa kali ke Tambraw.

Selalu saja bertemu Pedagang Bugis Makassar, meski hanya membuka kios, warung makan, warung kopi bahkan toko sembako.

Tak terkecuali Sorong Selatan Teminabuan yang sudah sangat lebih maju karna memiliki sosok H. Nur Sekeluarga. Yang juga bahkan memiliki kapal laut.

Kembali ke Rauf Abu, kondisi Sorong khususnya, Wilayah Kepala Burung yang masih terisolir itulah yang membuat Rauf Abu dan CV Cahaya Rahmatnya akhurnya juga memiliki 1 Armada Kapal Motor Laut Besar yang diberi nama: Intan Raya.

Intan Raya menembus isolasi itu dan membantu pemerintah dalam menggeliatkan ekonomi.

Kopra, hasil laut, budi daya rumput laut, budi daya taripang coba digarap.

Pulau Dua dan Pulau Sop yang tak jauh dari Dermaga Sorong jadi episentrum bisnis baru yang coba digarap.

(BERSAMBUNG)….

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x