Langkah Cicit Mbah Hasyim Menuju PBNU 1: Profil Gus Kikin, Sosok Teknokrat-Kiai yang Diusung Maju Caketum

Kata Tanah Papua
26 Jul 2026 13:56
3 menit membaca

Jombang,katatanahpapua.com — Jelang gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada 27–31 Agustus 2026 mendatang, bursa Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 kian memanas.

Sosok KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, resmi didorong masuk ke arena suksesi kepemimpinan tertinggi jamiyyah Nahdlatul Ulama.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur ini mendapat restu kuat dari basis utamanya.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak 42 dari 45 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur telah menyatakan kebulatan tekad untuk mendukung cucu-cicit pendiri NU tersebut.

Namun, siapakah sebenarnya sosok Gus Kikin dan apa yang membuatnya menjadi figur pembeda dalam bursa Caketum PBNU kali ini?

Darah Murni Sang Maestro Jamiyyah

Lahir pada 17 Agustus 1958, Gus Kikin memegang nasab keilmuan dan perjuangan yang teramat kuat di tubuh NU.

Dari garis sang ibu, Nyai Hj Abidah Ma’shum, nasabnya tersambung langsung kepada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim—putri sulung pendiri NU, Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari—yang diperistri oleh pakar falak kenamaan asal Gresik, KH Ma’shum Ali.

Sementara dari garis sang ayah, KH Mahfudz Anwar, Gus Kikin bersambung ke KH Anwar Alwi, pendiri PP Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang.

Garis keturunan ini juga menjadikannya saudara sepupu dari Rais PWNU Jatim, KH Anwar Manshur (Lirboyo).

Penerus KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di Tebuireng ini tidak hanya mewarisi tradisi keislaman yang mendalam, tetapi juga nilai-nilai kepemimpinan pesantren yang kokoh dan inklusif.

Perpaduan Unik: Santri, Maritim, dan Komunikasi

Berbeda dari figur kiai pada umumnya, latar belakang pendidikan dan rekam jejak karier Gus Kikin terbilang sangat unik.

Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Jombang, sebelum akhirnya melangkah ke ibu kota untuk menimba ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.

Semangat belajarnya tak berhenti di sana; ia juga merengkuh gelar sarjana di bidang Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka.

Kombinasi latar belakang maritim dan komunikasi ini membentuk karakter Gus Kikin sebagai manajerial yang pragmatis, terstruktur, dan adaptif.

Kiprah profesionalnya pun teruji ketika ia pernah memegang posisi strategis sebagai Kepala Cabang di BUMN pelayaran, PT Djakarta Lloyd.

Pengalaman mengarungi dunia industri nasional inilah yang dinilai banyak pihak menjadi modal berharga bagi PBNU untuk menjawab tantangan tata kelola organisasi modern di era peradaban baru.

Mengusung Garis Perjuangan dan Kemandirian Organisasi

Penugasan Gus Kikin sebagai calon Ketum PBNU dari Jawa Timur bukan sekadar formalitas suksesi.

Dengan mengantongi dukungan hampir mutlak dari PCNU se-Jatim, kehadiran Gus Kikin membawa angin segar yang mempertemukan nilai tradisi pesantren (ashalah) dengan manajemen modern (modernitas).

Di tengah dinamika sosial-ekonomi umat yang kian kompleks, kepemimpinan bernuansa manajerial-teknokrat yang disatukan dengan kealiman kultur pesantren menjadi daya tarik utama dari figur cicit Mbah Hasyim ini.

Muktamar ke-35 NU di Jombang Agustus mendatang dipastikan bakal menjadi panggung krusial: mampukah sang pengasuh Tebuireng memimpin nahkoda kapal besar PBNU menuju abad keduanya? Umat kini menanti dengan penuh harapan.

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x