Kompleks Al-Amin, Jejak Muhammadiyah Sorong dan Kontribusi H. Abdul Rauf Abu (Bagian Kesembilan)

Kata Tanah Papua
2 Agu 2026 13:17
6 menit membaca

Penulis: Muhammad Adnan Firdaus (Mantan Wartawan Majalah Islam SABILI Jakarta dan Harian Umum Fajar Papua Sorong)

KESAN MENDALAM AHMAD HIDAYAT KEPADA SOSOK RAUF ABU

Salah satu saksi sejarah dan pegiat dakwah di Sorong Tahun 1970an yang punya kesan mendalam atas sosok, kiprah, kepribadian dan perjuangan H. Abdul Rauf Abu adalah H. Ahmad Hidayat.

” Saya terkesan dengan senyum dan keikhlasannya,” ujar Ahmad Hidayat.

Tak disangka, pria Asal Tasikmalaya Kelahiran Juli 1946 ini punya banyak cerita dan dokumen lawas Tentang Rauf Abu, Intan Raya, Kapal Motor Cahaya Rahmat, Masjid Al-Amin, Masjid Al-Jihad, dan lain-lain.

Hal tersebut, membuat Ahmad Hidayat menjadi sosok yang unik, klasik dan unlimited edition.

Dalam dunia “perwalian” dikenal istilah “Laa ya’lamu al-waliyya illa al-waliyyu” (Hanya para wali yang mengetahui kekuatan dan rahasia para wali).

Sebagaimana juga Kaidah Ushul Fiqhi yang berbunyi “Maa laa yatimmu al-wajibu illa bihi, fa huwa wajibun” (Sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan kewajiban yang lain).

Maka posisi kewajiban penyempurna ini sama wajibnya dengan kewajiban itu sendiri.

Maka, hemat Penulis. Jika kita sedikit banyak ingin mengetahui sepak terjang dan karakter seseorang.

Maka salah satu pilihan cerdasnya adalah dengan menelisik sosok yang dekat dan mengenal tokoh tersebut.

Almar-u ma’a man ahabba,” ujar Pepatah Arab.Yang artinya, seseorang itu cenderung dikumpulkan, bersifat, berkarakter seperti orang yang dicintainya.

Disinilah nilai penting Sosok Ahmad Hidayat dari Sosok Rauf Abu menemukan momentum.

Ahmad Hidayat, seperti GPS dari Rauf Abu yang dalam beberapa Episode Rauf Abu. Hidayat dapat menjadi referensi

Mengapa demikian? itu dikarenakan, meskipun usia Ahmad Hidayat sudah terbilang cukup sepuh karna saat ini (Tahun 2026) dirinya genap berusia 80 tahun.

Namun ingatan dan memorinya masih apik.

Penulis melihat, hal tersebut terjadi karna Ahmad Hidayat hobi bersepeda, traveling dan joufuly man.

Selalu berpositif thingking dan punya nurani yang tajam.

Enam tahun lalu, tepatnya di Tahun 2020 adalah momentum pertama kali Penulis bertemu Ahmad Hidayat.

Saat itu, Ahmad Hidayat bersama seorang anak dan anak mantunya dengan sengaja datang ke Sorong untuk tujuan melakukan safari dakwah dan napak tilas memori pribadinya, juga yang terkait dengan Masjid Al-Amin, SMP Al-Amin, SMA Al-Amin, Yayasan Al-Amin, Perkembangan Dakwah Muhammadiyah dan Kiprah Sosok Rauf Abu dan kawan-kawan.

Penulis bertemu Ahmad Hidayat ditemani keluarga di Lobi Hotel You n Me, Jalan Jendral Ahmad Yani, Kota Sorong. Tak berselang lama, Putri al-Marhum H. Rauf Gani, Mukhsanati Rauf Gani bersama suaminya Musliman Ahmad juga menemui Ahmad Hidayat.

Insting wartawan penulis terusik melihat dokumen-dokumen unik, klasik dan limited edition yang dimiliki Ahmad Hidayat.

Bagaimana tidak, Ahmad Hidayat dengan bangganya memamerkan koleksi Uang Kuno IB, Uang Belanda yang dipakai sebagai alat tukar oleh mereka yang masuk ke Irian Barat Tahun 1960an, Sebelum Pepera Tahun 1969 yang jadi legitimasi Irian Barat bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam hati Penulis membatin: ” Subhanallah, tidak semua orang dianugerahi oleh Allah SWT kemampuan, ketelatenan, ketekunan dan kesabaran untuk menyimpan foto-foto, dokumen, barang-barang antik dan klasik selama hampir lebih 50 Tahun,” ujarku dalam diam.

Dokumen-dokumen berharga ini, seperti harta karun, yang jangankan individu. Lembaga-lembaga keumatan, atau bahkan lembaga resmi kearsipan negara belum tentu menyimpan dokumen tersebut.

Karna di Indonesia, apalagi Irian Barat.Tidak banyak sosok unik seperti Ahmad Hidayat yang memahami pentingnya nilai sejarah, nilai kearsipan dan mencintai dunia ini sebagai panggilan jiwa.

Subhanallah

Adapun dokumen mahal yang diperlihatkan Ahmad Hidayat kepada Penulis saat bertemu di Hotel You n Me Tahun 2020 adalah, di antaranya: Foto Rauf Abu dengan Backround Kapal Motor Intan Raya yang sedang dok.

Foto Rauf Abu saat silaturrahim ke Rumah Ahmad Hidayat.

Foto Masjid Al-Amin Awal 1970an awal perintisan yang masih beratapkan rumbai pelepah enau.

Foto Masjid Al-Jihad.

Foto Masjid Pertama di Teminabuan. Dan lain-lain.

Foto-Foto Lawas Masjid Al-Amin saat awal perintisan Awal Tahun 1970an juga diperlihatkan Ahmad Hidayat kepada Ruslan Rasid dan juga ikut dilihat oleh Hilman Dja’far.

Hilman Dja’far dan Ruslan Rasid adalah Eksponen Pemuda Muhammadiyah Kota Sorong yang saat itu juga mengabdi di Amal Usaha Muhammadiyah.

Hilman Dja’far adalah Pengasuh Panti Putri Al-Amin Muhammadiyah sekaligus Marbot Masjid Al-Amin.

Sedangkan Ruslan Rasid adalah Guru Madrasah Tsanawiyah (MTS) Muhammadiyah 1, Kota Sorong.

Saat Ahmad Hidayat datang untuk menapaktilasi Jejak Rauf Abu, Al-Amin, Muhammadiyah dan Dakwah Islam di Sorong Raya Papua Barat Daya umumnya.

Kedatangan Ahmad Hidayat ke Kota Sorong dan Masjid Al-Amin, lanjut ke Teminabuan tetap “dikawal” putri dan anak mantu.

Anak Mantu Ahmad Hidayat Seorang Doktor dan kebetulan berteman dengan Surahman Amin.

Sebagai informan tambahan, Ahmad Hidayat akhirnya mengajak Ruslan Rasid dan Hilman Dja’far ikut turut serta touring ke Teminabuan.

Hasil dari touring itu melahirkan beberapa tulisan Tentang Al-Amin dan Rauf Abu yang dimuat oleh sorongterkini.id.

Silaturrahim Ahmad Hidayat dan Keluarga akhirnya berlanjut dengan Keluarga Besar H. Abdul Rauf Abu dan H. Abdul Rauf Gani di Makassar yang berujung berziarahnya Ahmad Hidayat dan Keluarga ditemani Anak Rauf Abu dan Rauf Gani.

Tak terasa sudah hampir 6 Tahun Silaturrahim Awal Ahmad Hidayat saat Reuni Awal ke Sorong di Tahun 2020. Seolah selalu rindu, penasaran, dan ingin mengenang sesuatu yang sangat berarti.

Akhirnya, beberapa bulan lalu di Tahun 2026 ini.

Ahmad Hidayat kembali berkunjung ke Sorong dan Kompleks Al-Amin tempat dirinya dulu ikut mengabdi dan menyimpan kenangan kepada Sosok Rauf Abu, Rauf Gani dan Siswa-Siswi SMP Al-Amin dan SMA Al-Amin yang sempat diajarnya.

“Saya nginap di Masjid Al-Amin beberapa malam. Saya dengan sengaja tidak mau nginap di hotel. Saya bersyukur kepada Allah SWT, Dakwah Islam di Sorong dahsyat, langkah raksasa.Tak terbayangkan sebelumnya. Dakwah Muhammadiyah best one lah,” ujar Ahmad Hidayat kepada Penulis melalui Pesan Whatssap.

Ahmad Hidayat memberikan komentarnya itu sambil tak lupa mengirimkan foto kenangan perpisahan dirinya dengan siswa-sisiwi binaannya di SMP dan SMA Al-Amin Sorong.

“Saya mengajar Matematika, Fisika,” ujar Ahmad Hidayat.

“Saat perpisahan karna harus pindah ke Jawa Timur Tahun 1980 itu, banyak siswa saya yang memberikan bingkisan dan menangis,” kenang Kakek 16 Cucu ini.

Kesan yang mendalam terhadap Sosok Rauf juga Rauf Gani yang membuat Ahmad Hidayat sepulang dari Sorong, lanjut ke Alor.

Namun dirinya selalu berusaha menziarahi Makam Rauf Abu dan Rauf Gani.

Pria paruh baya beranak lima ini ingin mendoakan dan menziarahi makam kedua sosok yang menurutnya punya andil mewakafkan hartanya untuk Dakwah Islam dan Muhammadiyah baik secara pribadi ataupun dengan Wasilah Yayasan Al-Amin.

Tanpa bermaksud mengkultuskan keduanya dan menafikan peran tokoh lainnya.

Rintisan dakwah dan jihad harta dari mereka berdua dan keluarga, juga kaum muslimin yang hingga saat ini masih dapat dilihat monumennnya dan semakin berkembang bersama asuhan Persyarikatan Muhammadiyah sebagaimana telah dituliskan di edisi sebelumnya.

(BERSAMBUNG)…….

katatanahpapua.com adalah bagian dari jaringan media katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x