
Penulis: Ismail Suardi Wekke (Redaktur Senior KataTanahPapua.Com)
Makassar,katatanahpapua.com — Di tengah hiruk-pikuk Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Rektor UniversitasMuhammadiyah Sorong, Dr. H. Muhammad Ali, menenteng kopi kebanggaan kotanya. Sekalipun dengan tetap berdiri di tengah keriuhan bandara, obrolan mengalir ke sejarah Al Amin hinggahakikat kekuasaan.
Jumat sore (18/9/2026) di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, diwarnai ketergesaan. Penumpang lalu-lalang, mengejar jadwal penerbangan atau bergegas menuju pintu keluar. Namun, di tengah pusaran kesibukan bandara terbesar di Indonesia Timur itu, terlihat langkah Muhammad Ali justru tampak amat santai.
Tidak ada ajudan yang mengekor, tidak pula tampak gurat ketegangan di wajahnya. Ditangannya, ia menenteng “Kopi Senang”—kopi legendaris yang identik dengan harumnya kota Sorong. Kopi itu sepertinya akan menjadi kawan setianya dalam perjalanan sekaligus akan diserahkan menjadi buah tangan seseorang yang akan dijumpainya.
“Hidup ini enjoy saja,” seloroh Ali, sembari tersenyum menceritakan kursi rektor yangdidudukinya. Di balik pembawaannya yang menenangkan, Ali bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS). Di pundaknya, sebuah cetak biru raksasa tengah dipersiapkan: membangun lahan kampus masa depan seluas 44 hektare.
Sebuah megaproyek yang bisa membuat siapa saja sibuk untuk sampai pada kebanggaan. Namun, sebagaimana filosofi Kopi Senang yang dibawanya, Ali justru melihat 44 hektare itu dengan sangat rasional dan sarat nilai kepasrahan. “Fisik itu saja hanya satu poin. Harus berorientasi pada nilai, bukan sekadar besar,” katanya menegaskan.
Ali sesekali melihat layar untuk memastikan penerbangannya. Obrolan di ruang tunggu bandaraitu pun melayang kembali ke Sorong, jauh sebelum UMS sebagaimana sekarang. Iamengingatkan bahwa kampus megah ini memiliki akar yang sangat bersahaja pada tahun 1982.Cikal bakalnya adalah sebuah masjid bernama Masjid Al Amin, yang digawangi oleh sosok (almarhum) H. Rauf sebagai inisiator Yayasan Al Amin.
Gerakan itu merangkak dari bawah, dimulai dengan mendirikan sekolah untuk jenjang TK, SMP, dan SMA terlebih dahulu. Ketika embrio pendidikan itu perlahan membesar, pengelolaannya diserahkan kepada Persyarikatan Muhammadiyah. Dokumen penyerahan sejarah itu hingga kini masih tersimpan di arsip organisasi.
Namun, Ali memberi catatan tebal pada proses transisi tersebut. Penyerahan itu tidak dilakukansecara blangko. “Diserahkan dengan klausul, (institusi ini) dikelola dan dikembangkan berdasarkan Al-Quran dan Sunah yang sahih,” ungkap Ali. Klausul spiritual inilah yang terus dijaganya. Ia mewanti-wanti, segala hal yang hendak dikerjakan di kampus harus berpedoman pada kitab suci, bukan pada nafsu kelembagaan semata.
“Kenal masa lalu, supaya tidak lepas,” ujarnya. Baginya, sivitas akademika Unamin tidak bolehhanya mengenal institusi secara organisasi saja, melainkan harus menyelami danmenghidupkan “Jiwa Muhammadiyah”.
Filosofi merawat akar ini pula yang memengaruhi gaya kepemimpinannya. Ali menolak modelleadership yang otoriter. Ia lebih suka menengok lembaran sejarah para nabi dan sahabat untukmencari rumusan ideal seorang pemimpin. Baginya, definisi kepemimpinan itu lugas: “Pemimpindalam versi Rektor itu adalah, bahwa yang dipimpin sukses.”
Waktu boarding perlahan mendekat. Suara pengumuman bandara sesekali memotongperbincangan. Menyelesaikan obrolan sore itu, Ali juga menyempatkan untuk berbicara tentangkursi kekuasaan yang kini didudukinya. Dengan gaya santainya yang khas, ia mengaku samasekali tidak terikat pada jabatannya.
“Kalaupun tidak menjadi rektor, maka senang hati. Bekerja sesuai kemampuan saja,” katanyatanpa pretensi.
Bagi Muhammad Ali, memimpin Unamin—dengan segala tantangan membangun lahan 44hektare—adalah sebuah proses penyelarasan diri sebagai manusia. “Kita sendiri yangmenyelaraskan. Kita dituntut ikhtiar, selebihnya tawakal,” tuturnya.
Kami kemudian melangkah menuju gate keberangkatan, terlihat Ali masih menenteng KopiSenang di tangannya. Sebelum berpisah, Ia meninggalkan sebuah kalimat penutup yangmerangkum seluruh filosofi hidupnya, “Hidup ini dimaknai oleh kekuasaan absolut, yaitu Allah.”Dan di bawah kekuasaan absolut itu, sang Rektor memilih untuk terus berjalan dengan enjoy dan merdeka.


Tidak ada komentar